FK Siap Jadi Motor Terdepan Kemajuan UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
GEDUNG FK Universitas Airlangga, peninggalan NIAS (Nederlands Indische Artsen School). (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran merupakan fakultas tertua di Universitas Airlangga. Dari sejarahnya sudah eksis selama 102 tahun. Karena itu FK siap menjadi motor terdepan, penunjang keunggulan dan kemajuan Universitas Airlangga (UNAIR) yang digadang-gadang pemerintah bisa masuk daftar 500 perguruan tinggi terbaik dunia tahun 2020.

Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U., menyebut target itu tidaklah berlebihan sebab FK memiliki SDM dan infrastruktur yang memadai di 29 departemen, 25 klinik, dan empat pre-klinik. Mahasiswanya juga terpilih dan banyak pemikir handal yang lahir dari kolaborasi penelitian bersama jejaringnya yakni RSUD Dr. Soetomo sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Timur dan Indonesia Timur, hingga terwujudnya “Airlangga Health Science Center”.

”Secara sinergis FK siap menjadi university holding bagi UNAIR dalam upaya menuju World Class University. Siap melaksanakan kebijakan Akademic Health Science yang ditegaskan oleh Kemenristek Dikti bersama Kemenkes,” kata Prof. Soetojo kepada UNAIR NEWS belum lama ini, di kantornya.

Karena histori dan reputasinya itu maka Prof. Tojo bertekad membawa FK yang berdiri sejak 1913 bernama Netherland Indische Artsen School (NIAS) ini menuju sebagai pusat pendidikan dan penelitian kedokteran terkemuka dengan mengoptimalkan setidaknya tiga keunggulannya yaitu di bidang penyakit tropis, disaster management, dan community medicine. Kemudian hadirnya mahasiswa terpilih dalam rekruitmen sejak mahasiswa S1, professi, Magister (S2), Program Spesialis (PPDS), hingga Program Doktoral (S3) sangat memungkinkan banyak ladang penelitian dalam 29 departemen itu akan terwujud dengan baik.

DEKAN Fakultas Kedokteran UNAIR, Prof. Dr. Soetojo, dr., SpU., didampingi ketiga Wakil Dekan ketika memaparkan program-program FK dalam Rapat Pimpinan Universitas. (Foto: Bambang Bes)
DEKAN Fakultas Kedokteran UNAIR, Prof. Dr. Soetojo, dr., SpU., didampingi ketiga Wakil Dekan ketika memaparkan program-program FK dalam Rapat Pimpinan Universitas. (Foto: Bambang Bes)

”FK menyambut baik target yang ditetapkan Rektor bahwa tahun 2019 siap masuk 500 perguruan tinggi terbaik dunia,” tambah Guru Besar bidang Ilmu Urologi FK UNAIR ini.

Dalam lima tahun kedepan, FK memprogram untuk menggenjot pengembangan jurnal ilmiah nasional dan internasional dan peningkatan kualitas SDM. Guna menunjang dua sasaran program tersebut FK membentuk Tim Akselerasi yang akan menangani birokrasi pengembangan SDM dan peningkatan jurnal. Tim jurnal dan publikasi ilmiah dikoordinasi dibawah wewenang Wakil Dekan I dan Wakil Dekan III.

“Karena selama ini penelitian di FK itu relatif banyak, tetapi kurang terdata secara baik. Dengan rata-rata terdapat 400 penelitian per tahun, maka jika ada petugas khusus yang membantu maka yakin yang terpublikasi akan makin banyak,” kata Dekan FK seraya menegaskan bahwa motivasi kearah sana sudah ditata, baik melalui sistem maupun dengan pemberian bantuan (reward).

Peningkatan publikasi internasional selain untuk menunjang WCU sekaligus agar FK UNAIR makin dikenal dalam percaturan ilmu kedokterannya, terutama pada tiga andalan ilmiah tadi: penyakit tropis, disaster management, dan community medicine. Dengan semakin banyak mahasiswa asing reguler yang tertarik mendalami tiga hal tersebut, diharapkan tahun 2019-2020 FK sudah go international. Mahasiswa asing reguler yang dimaksud adalah mahasiswa luar negeri yang mengikuti perkuliahaan di FK dengan pengantar Bahasa Indonesia.

”Semakin dikenal di luar negeri dan mahasiswa asingnya banyak, artinya FK UNAIR ini adalah sesuatu yang menarik. Tiga unggulan itulah yang akan kami kemas hingga benar-benar dibutuhkan, termasuk di era pasar bebas ASEAN atau MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) ini,” tambah Prof. Soetojo.

Tiga unggulan tadi menjadi menarik karena di luar negeri tidak banyak terjadi. Misalnya operasi bedah pasien dengan ‘open surgery’, operasi pengeluaran batu ginjal, dan kasus-kasus penyakit tropis lainnya.

Penelitian mahasiswa juga akan ditingkatkan. Bila selama ini masih kurang, karena riwayat penelitian bagi mahasiswa S1 FK baru diawali tahun 2005, sedang pada fakultas lain sudah wajib sebagai bahan TA (Tugas Akhir). Penelitian mahasiswa FK sejak tahun 2005 sudah harus dipresentasikan, jadi akan meningkatkan publikasi ilmiah. Perubahan ini akan semakin meningkatkan kualitas lulusan.

“Kedepan kami akan push mahasiswa agar menjadi lebih bagus, mereka harus masuk ke ranah publikasi ilmiah, baik mahasiswa S1 dan PPDS,” lanjut Prof. Soetojo. Bidang Kemahasiswaan juga mencanangkan untuk memperbanyak student exchanges, terutama mahasiswa yang keluar untuk menambah skill. (*)

Penulis: Bambang Bes & Sefya Hayu Istighfaricha

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu