Mengendalikan Penyakit Kusta di Jawa Timur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Indropo Agusnia, dr., Sp.KK (K) saat ditemui tim UNAIR NEWS di ruangannya (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Berdasarkan data terbaru yang dilansir oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, jumlah penderita kusta di Indonesia sekitar 17.000 orang, dan sepertiga diantaranya, yakni 4.183 orang berada di Jatim.

Peneliti Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga Prof. Dr. Indropo Agusnia, dr., Sp.KK (K) turut menanggapi data tersebut. Menurut Prof. Indropo, hal terpenting untuk mengendalikan jumlah penderita penyakit kusta adalah dengan mencari dan mencegah sumber penularan.

“Penyakit kusta yang menular adalah kusta tipe multi balcillary atau kusta tipe basah. (Hal) yang kita anggap sebagai sumber penularan adalah penderita kusta. Di dalam tubuh penderita itu mengandung kuman dan disebarluaskan melalui percikan air liur,” tutur Prof. Indropo.

Pemerintah memang tidak tinggal diam untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Kementerian Kesehatan berkolaborasi dengan World Health Organization (WHO) dalam melakukan pencegahan kusta dengan berbasis multiple drug therapy (MDT) sejak dua puluh tahun yang lalu.

Kebijakan MDT yang dimaksud adalah memberikan obat kepada semua warga yang tinggal di daerah endemis penyakit kusta. Prof. Indropo yang juga Guru Besar bidang Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran UNAIR tak sependapat dengan kebijakan itu. Pihaknya menilai bahwa kebijakan itu belum tepat sasaran.

“Kemenkes bekerjasama dengan WHO, bahwa warga yang tinggal di daerah endemis kusta diberi obat MDT oleh WHO. Sakit maupun tidak sakit, warga harus minum. Tetapi, bagi kami peneliti di perguruan tinggi, seharusnya WHO memberikan obat itu kepada target tertentu. Kebijakan seperti itu memang bisa menurunkan angka penderita kusta dalam waktu 1-2 tahun ke depan, tetapi nanti mendekati lima tahun akan muncul pasien-pasien baru. Jadi, itu sifatnya hanya menunda sementara,” tegas Prof. Indropo.

Terkait dengan pencegahan berbasis pengobatan MDT, tim FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo telah melakukan hal serupa selama lima tahun terakhir di Sumenep, Madura. Pengobatan itu diberikan kepada calon penderita kusta. Hasilnya, di daerah tempat dirinya melakukan pengobatan itu tidak muncul penderita baru.

Potensi penularan baru

Berdasarkan studi yang pernah ia lakukan dengan tim peneliti ITD UNAIR di sebuah daerah endemis kusta di Jatim pada tahun 2004 lalu, telah ditemukan adanya bakteri Mycobacterium leprae yang hidup di akar-akar tanaman di sepanjang sungai yang melewati kawasan tersebut. Namun, hingga kini, ia bersama tim peneliti UNAIR belum bisa membuktikan apakah kuman tersebut berdampak langsung kepada warga sekitar.

“Kami menyebutnya sebagai non-human resources of Mycobacterium leprae atau sumber penularan yang berasal dari lingkungan sekitar. Namun, kita belum bisa membuktikan bahwa kuman yang ada di lingkungan itu telah membuat warga di sekitarnya terjangkiti kusta,” tutur salah satu inisiator Museum Pendidikan Dokter, FK UNAIR, Surabaya. (*)

Penulis: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu