Mari Hapus Stigma Buruk Pada Penderita Bipolar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Para peserta talkshow dalam rangka Bipolar Day berpose setelah acara di Perpustakaan (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWSBipolar disorder yang dapat disebut juga dengan gangguan mood adalah gangguan kejiwaan yang mempengaruhi perubahan suasana hati dan perilaku seseorang. Sekitar satu dari lima orang di dunia mengidap penyakit ini. Penderita bipolar mengalami suatu kondisi yang kontradiktif. Ambivalensi perilaku dan suasa hatinya terjadi di luar kesadaran.

Di satu sisi, penderita merasakan gembira berlebihan. Namun di sisi lain, bisa berubah pendiam, pemurung, bahkan depresi. Perpindahan suasana hati si penderita dapat terjadi dalam beberapa symptoms.

Masyarakat perlu mendapat pemahaman tentang Bipolar secara proporsional. Tujuannya, agar tidak terjadi salah persepsi yang berujung pada “pengucilan”. Sebaliknya, tiap orang mesti bersumbangsih untuk memberi solusi. Paling tidak, dengan berhenti memberi stigma.

Pada Rabu lalu (30/3), komunitas Ynot menggelar acara talkshow bertajuk “Raise Awareness, Break The Stigma”. Event ini diadakan bertepatan dengan momentum Bipolar Day.

Acara yang diadakan di Flash Lounge Perpustakaan Universitas Airlangga tersebut mendatangkan narasumber seorang ahli kejiwaan, dr. Erikavitri yulianti, SpKJ dan perwakilan Komunitas Bipolar Care Indonesia, Eneng.

Dokter Erika memperkenalkan penyakit bipolar pada sekitar 57 peserta. Dia menuturkan, solusi alternatif bagi penderita bipolar melalui psikoterapi dan obat-obatan. Dia juga menjelaskan peran penting menjaga kesehatan dengan memperhatikan pola makan dan kebiasaan hidup.

Dipaparkannya, bipolar disebabkan oleh penyakit dalam otak yang membuat penderita tak dapat berhenti memberikan ide-ide tidak masuk akal yang dituturkan secara berloncatan. Maka, penanganan bipolar tidak cukup dengan psikoterapi. Melainkan juga, obat-obatan yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.

“Karena bipolar ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh zat-zat di otak, maka penanganan bipolar juga harus menggunakan obat-obatan. Otak manusia normal dengan penderita bipolar sangat berbeda. Otak penderita bipolar tampak lebih aktif,” kupas dr. Erika.

Selain pakar kejiwaan, YNot juga menghadirkan perwakilan dari Komunitas Bipolar Care Indonesia yang merupakan penderita bipolar. Perempuan yang karib dipanggil Eneng ini berbagi kisah pada peserta seputar penyebabnya mengidap bipolar.

Dia berkisah, ketika kecil, sering sakit-sakitan dan mengalami traumatik akibat perceraian orangtuanya. Hidup di lingkungan keluarga broken home, Eneng mengalami tekanan batin. Dia sering marah-marah tanpa sebab dan lepas kontrol.

Hal tersebut membuat guru-guru sekolahnya mengantarkan Eneng ke seorang psikiater. Setelah menjalani berbagai tes, psikiater tersebut mendiagnosisnya mengidap bipolar.

Meskipun telah didiagnoisis bipolar, Eneng tidak patah semangat. Justru dia memperbaiki diri dengan membuat jadwal secara terstruktur dan mengasah kemampuan serta bakat. Dia berpendapat bahwa penderita bipolar juga bisa berkreasi seperti orang lain.

“Saya pengen orang-orang tidak memberi stigma. Kami juga sama seperti mereka. Bahkan kami bisa berkreasi dan banyak di antara kami yang sukses dengan bakat masing-masing,” kata Eneng. (*)

Penulis: Lovita Cendana
Editor: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu