Resep Ayuni dan Noer, Wisudawan Terbaik S2 dan S3 FKM, Raih IPK Sempurna

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UNAIR NEWS

UNAIR NEWS –  Bisa menjalani berbagai kegiatan dalam waktu yang bersamaan atau multitasking, diakui memang tidaklah mudah. Tetapi bagi Putri Ayuni Alayyannur, SKM., M.KKK toh bisa menjalaninya. Hal itu dibuktikan ketika menjalani perkuliahannya di jenjang Magister pada program studi S2 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K-3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR. Pada saat bersamaan Ayuni, ya harus kuliah, ya bekerja, ya berorganisasi dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan Noer Saudah, wisudawan terbaik S3 FKM, rajin meneliti dan publikasi jurnal. Itulah resep mereka meraih IPK sempurna: 4,00.

Putri Ayuni Alayyannur, SKM., M.KKK wisudawan terbaik S3 FKM dengan IPK sempurna: 4,00. (Foto: Istimewa)
Putri Ayuni Alayyannur. (Foto: Istimewa)

Ketatnya jadwal kegiatan tak lantas membuat prestasi Putri keteter. Ia justru termotivasi dan akhirnya berhasil meraih predikat sebagai wisudawan terbaik jenjang S-2 di fakultasnya dalam wisuda Maret 2016 dengan IPK sempurna: yaitu 4,00.

Apa saja kiat-kiatnya hingga bisa multitasking sebaik itu? Kata Putri, ia hanya berusaha untuk melaksanakan segala urusan itu dengan disiplin dan bertanggungjawab. Di tahun pertama dan kedua perkuliahannya, ia masih “nyambi” bekerja sebagai staf penjaminan mutu di SMA Khadijah Surabaya. Pada waktu bersamaan, Putri juga mempunyai ikatan kerja dengan tim FKM UNAIR – Dinkes Provinsi Jatim– Centre Disease Control – dan UNICEF untuk program keterjangkauan imunisasi di Jawa Timur.

”Ketika saya harus menjalani itu semua, belum lagi ditambah dengan tugas-tugas kuliah, mengharuskan saya bisa membagi waktu dan menentukan prioritas untuk bisa menyelesaikan seluruh tugas dengan hasil yang baik,” kata Putri, satu-satunya penerima beasiswa Bakrie Graduate Fellowship tahun 2015/2016 di FKM UNAIR.

Setelah masa studinya selesai, ia pun ingin bisa menjadi guru atau dosen. Karena itulah penulis buku “Annahwu Wasshorof” ini berencana mengaplikasikan ilmunya dan bergabung pada lembaga konsultan K-3. ”Saya berharap agar masalah K-3 dapat diaplikasikan di berbagai lembaga secara benar dan sesuai dengan peraturannya yang berlaku,” tutur perempuan kelahiran Kota Pahlawan Surabaya ini.

RAIH IPK SEMPURNA BERKAT RAJIN MENULIS JURNAL

Dr. Noer Saudah, S.KM., M.KKK wisudawan terbaik jenjang Doktor (S3) pada prodi Ilmu Kesehatan FKM Universitas Airlangga dalam wisuda Maret 2016, dengan IPK sempurna: 4,00. (Foto: Istimewa)
Noer Saudah. (Foto: Istimewa)

Sementara Dr. Noer Saudah, S.KM., M.KKK semasa kuliah aktif melakukan penelitian dan publikasi jurnal, baik tingkat nasional dan internasional. Ia juga aktif melaksanakan pengabdian masyarakat, misalnya khitanan massal dan donor darah di lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mojokerto.

Karena itu, tidaklah heran jika akhirnya perempuan asli Mojokerto ini meraih prestasi sebagai wisudawan terbaik jenjang Doktor (S3) pada prodi Ilmu Kesehatan FKM Universitas Airlangga dalam wisuda Maret 2016, dengan IPK sempurna: 4,00.

Ditanya tentang kiat-kiatnya menjadi wisudawan terbaik, Dr Noer Saudah mengatakan bahwa dirinya hanya berusaha untuk sedapat mungkin tidak absen dalam setiap perkuliahan di UNAIR. Selain itu juga aktif berdiskusi dengan dosen baik saat di kelas maupun di luar kelas.

“Ego perlu dikesampingkan agar kita dapat menerima masukan dari promotor maupun ko-promotor. Yang terakhir, saya selalu berusaha membuka laptop untuk mengerjakan disertasi, meskipun hanya dalam waktu setengah jam,” kata Noer.

Disinggung tentang hasil pengamatannya selama ini, ia jelaskan bahwa kelahiran bayi prematur merupakan penyebab utama kematian bayi yang baru lahir. Karena itu, sang jabang bayi itu perlu memperoleh perawatan intensif, baik pada saat di rumah maupun di rumah sakit. Sedangkan ibu merupakan pemeran utama dalam memberikan perawatan terhadap bayinya, karena itu sang ibu perlu menyerap pengetahuan dari perawat bagaimana merawat bayi premature itu.

“Sayangnya, kondisi yang terjadi tidak demikian,” kata Noer Saudah. Selama perawatan di rumah sakit, keikutsertaan ibu bayi dalam perawatan bayinya masih sebatas pada pemberian ASI dan menggendong bayi. Padahal peran orang tua yang kurang selama masa perawatan bayi prematur di rumah sakit justru akan menyebabkan ketidakmandirian dalam merawat bayinya setelah pulang dari rumah sakit.

“Akibatnya apa, bayi prematur bisa mengalami gangguan tumbuh-kembang selama hidupnya. Untuk itu sang ibu perlu belajar dari pengalaman konkret dan bereksperimen secara aktif dalam merawat bayi yang lahir prematur,” demikian Dr Noer Saudah. (*)

Penulis: BINTI Q. MASRUROH dan DEFRINA SUKMA SATITI.
Editor : BAMBANG BES

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu