Prof Kuntaman: Pemerintah Harus Batasi Penggunaan Antibiotik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK., ketika ditemui tim UNAIR News di ruang kerjanya (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS  Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat mengakibatkan kuman di dalam tubuh menjadi resisten terhadap obat, sehingga berdampak tidak baik terhadap tubuh seseorang. Di tengah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan antibiotic itulah maka tim Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo mendorong pemerintah untuk membuat regulasi tentang penggunaan antibiotik di tingkat rumah sakit, Puskesmas, dan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK., ketika ditemui di ruang kerjanya di Departemen Mikrobiologi Klinik FK UNAIR, Kamis (30/3) siang. Menurutnya, prevalensi terhadap MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus) cukup berbahaya.

Guru Besar FK UNAIR itu menunjuk hasil studi terbarunya tentang kuman Staphylococcus aureus yang mengalami resistensi pada antibiotik jenis Methicillin (MRSA) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kuman tersebut menginfeksi sebanyak 8,1% dari 643 pasien di RSUD Dr. Soetomo. Meski demikian, ia mengakui salah satu kendala untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh resistensi antibiotik adalah kurangnya validasi data dari seluruh wilayah di Indonesia.

“Selama ini kita kekurangan data mengenai jenis bakteri yang sulit diobati, itu menyulitkan validasi,” tutur Prof. Kuntaman. Rencananya, ia akan mempresentasikan temuan ini pada tanggal 9 April 2016 mendatang pada European Congress of Clinical Microbiology and Infectious Diseases (ECCMID) di Amsterdam. Riset ini merupakan kolaborasi antara FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo dengan Erasmus Medisch Centrum, Belanda.

Hasil risetnya yang lain, Prof. Kuntaman menyampaikan bahwa kuman penghasil ESBL (Extended-Spectrum Beta-Lactamase) di Indonesia juga cukup tinggi, yakni berkisar 30% – 60% pada tahun 2013. Hal ini disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan ketaatan terhadap standard precaution.

Bahkan, kuman penghasil ESBL itu sudah mengalami resisten terhadap antibiotik jenis Carbapenem, yaitu antibiotik yang dapat menghambat segala aktivitas antibakteri. Hal ini muncul dari hasil risetnya bersama Prof. Shirakawa dari Universitas Kobe, Jepang.

Dari banyak hasil riset yang dilakukan di bidang resistensi mikroba terhadap antibiotik, Prof. Kuntaman yang tergabung dalam tim Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) berencana mengajukan guidelines kepada pemerintah untuk membuat regulasi agar MRSA tidak berbahaya.

Apabila guidelines yang ia bersama tim KPRA ajukan diterima oleh pemerintah, maka sejumlah peraturan terkait pembatasan penggunaan antibiotik bisa diterapkan. Peraturan yang dimaksud antara lain pelarangan terhadap apotek untuk menjual obat tanpa resep, dan membatasi masyarakat untuk menggunakan obat-obatan tanpa resep dokter.

“Rencananya, tahun ini tim KPRA mengajukan guidelines kepada pemerintah agar MRSA tidak berbahaya dan merugikan BPJS Kesehatan. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa penyakit yang diakibatkan oleh resistensi kuman terhadap antibiotik itu juga membebani BPJS Kesehatan,” imbuh Guru Besar bidang Mikrobiologi Klinik, FK UNAIR itu. (*)

Penulis: Defrina Sukma S.
Editor: Bambang BES

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu