Sebar Optimisme di Kala Ekonomi Melambat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Luky Alfirman sedang memberikan kuliah umum ‘Kebijakan Fiskal Terkini’ di Aula Fajar Notonagoro FEB UNAIR, Rabu (30/3). (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Perekonomian yang melambat merupakan fenomena global yang terjadi di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia. Namun demikian, Indonesia patut bersyukur bahwa hal tersebut tidak berdampak parah pada perekonomian Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan, Kementerian Keuangan RI Dr. Luky Alfirman dalam kuliah umum bertajuk ‘Kebijakan Fiskal Terkini’,  Rabu (30/3) di Aula Fajar Notonagoro Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR).

“Fundamental perekonomian Indonesia terbukti cukup kuat, sehingga dampak dari kenaikan suku bunga negara maju tidak terlalu berdampak negatif bagi kita,” ujarnya dengan nada optimis.

Ia juga menegaskan bahwa daya beli masyarakat Indonesia tengah membaik. Hal ini terlihat dari data inflasi tahun 2015 yang hanya 3,35 persen, turun tajam  dari 8,36 persen di tahun 2014 dan 8,38 persen di tahun 2013.

Selain menebar optimisme mengenai kondisi perekonomian nasional, Luky banyak menyoroti pengeluaran fiskal terkait dengan alokasi subsidi BBM ke sektor lain yang membutuhkan. Menurutnya dana APBN yang dialokasikan untuk subsidi BBM selama ini memang tidak tepat sasaran.

“Subsidi itu seharusnya untuk masyarakat kelas menengah ke bawah, faktanya yang menikmati selama ini kebanyakan para pemilik kendaraan mewah,” tandasnya sambil menjelaskan bahwa di tahun 2014, 18 persen dana APBN habis untuk subsidi BBM.

Namun, ia juga menyadari bahwa menghapus subsidi BBM juga tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Setiap kali mau naik BBM, demo. Gimana mau hapus?” tambah pria yang juga menjadi staf pengajar di UI ini.

Dalam kesempatan tersebut, Luky juga menegaskan pentingnya pengalihan alokasi dana APBN yang sebelumnya untuk subsidi BBM ke sektor lain yang memerlukan misalnya sektor infrastruktur. Kualitas infrastruktur di Indonesia yang selama ini jauh tertinggal dari negara lain menurut Luky perlu untuk untuk mendapatkan perhatian yang serius. (*)

Penulis : Dylan Salsabila
Editor : Yeano Andhika

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu