Sumain Si “Kawan Kadaver”, Antarkan Ribuan Orang Jadi Dokter

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUMAIN ketika di taman di depan Laboratorium Anatomi FK UNAIR (Foto: UNAIR News)

UNAIR NEWS – Sumain, yang akrab disapa Cak Main, sudah 33 tahun “berkawan dengan mayat”. Bagi orang awam kedengarannya mengerikan, tetapi bagi Cak Main sebagai pegawai Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) di Laboratorium Praktikum Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, “perkawanan” itu sudah menjadi bagian dari tugas kesehariannya yang dijalani sejak tahun 1983.

Ya, sehari-hari Cak atau Pak Main bertugas di Lab. Anatomi, menyiapkan segala kelengkapan yang akan digunakan praktikum oleh mahasiswa FK UNAIR. Karena anatomi sebagai bagian dari ilmu kedokteran dasar, dalam praktikumnya membutuhkan kadaver, yaitu jasad manusia asli yang telah diawetkan. Jadi, merawat mayat (yang baru didapat), mengawetkan di kolam pengawetan, lalu menyiapkan kadaver di meja-meja praktikum, dan kemudian menyimpannya lagi setelah dipakai praktik, adalah hal yang telah akrab bagi kedua mata dan tangan Sumain. Baginya cadaver ibarat “teman” dalam pekerjaannya.

Ketika ditemui UNAIR NEWS, Cak Main mengaku awalnya tak terlintas sedikit pun dibenaknya bahwa di UNAIR akan menekuni pekerjaan yang terbilang “langka” ini. Bahkan semula keluarganya juga tidak mengetahui tentang yang dilakukannya sehari-harinya sebagai pegawai PLP di FK UNAIR.

”Dulu keluarga tidak tahu kalau pekerjaan saya seperti ini. Ya tahunya saya bekerja di FK. Lalu dua anak saya kuliah disini, di FKM dan Analis Medis, akhirnya lama-lama mereka tahu kalau ayahnya bekerja disini. Tetapi mereka tidak marah, karena sejak kecil hingga kuliah biaya mereka ya dari sini,” ujar Cak Main sambil tersenyum.

Selain menyiapkan kadaver sebagai peraga praktikum mahasiswa FK, Cak Main pula yang merawat dan “mengolah” ketika mayat baru (Mr/Mrs X) didapat. Mulai proses penyucian, penyimpanan/pengawetan, hingga kemudian bisa dipakai sebagai praktikum. Setelah diawetkan menggunakan berbagai bahan, rata-rata kadaver itu baru bisa digunakan praktikum setelah delapan bulan hingga dua tahun. Praktikum anatomi menggunakan kadaver ini bergantung keperluan yang dibutuhkan, misalnya untuk keperluan “obgin” (obstetri & ginekologi), bedah plastik, bedah syaraf, anastesi, dan kebutuhan praktik anatomi lainnya. Biasanya mahasiswa semester II sudah mulai diperkenalkan dengan praktikum ini.

Tugas tambahan lain adalah jika ada workshop/pelatihan yang dihadiri mahasiswa/pakar asing. Jika ada event terbilang besar itu, tidak perduli malam diluar jam kerja, Sumain pasti datang untuk memastikan kelengkapan peralatannya, karena ia merasa bertanggungjawab terhadap keamanan berbagai peralatan yang memang tidak murah itu.

Bekerja menangani jasad manusia yang telah ditinggalkan ruhnya, tentu ada perasaan tidak nyaman. Begitu pula bagi Cak Main, terutama pada saat awal-awal bekerja ia dirundung rasa takut sampai berbulan-bulan, bahkan hingga tiga tahun.

”Awalnya saya merasa terpaksa dan takut. Selama 1-3 tahun saya sering bermimpi dan ketakutan. Kadang dulu malah nyeberangkan mayat dari RSUD Dr Soetomo ke FK menggunakan keranda,” katanya.

Karena rasa tanggungjawabnya yang besar sebagai laki-laki dan harus mencari nafkah, ia berhasil mengatasi rasa takutnya. Bahkan ia sekarang bisa dikatakan sebagai ahli bidang PLP. Karena kompetensinya itu, dua tahun lalu ia dikirim ke Malaysia untuk tugas belajar di Universitas Kebangsaan Malaysia. Di sini, Sumain sebagai ahli perawatan kadaver, juga sudah terkenal dan diakui. Karena itu ia sering dipanggil ke universitas lain untuk memberikan pelatihan penanganan kadaver, misalnya ke Universitas Cenderawasih (Papua), UNEJ Jember, UNISA Palu, Mataram, hingga Ambon.

Bagi yang tidak mengetahui tentang peranan kadaver sebagai pembelajaran, memang ada saja orang yang mengejek tentang professinya yang terbilang langka ini. Namun karena kelangkaan itu pula yang memunculkan kebanggaan bagi laki-laki yang tinggal di Desa Wonoplintahan, Kec. Prambon, Sidoarjo ini.

”Kadang orang tidak tahu kadaver itu gunanya untuk apa. Padahal kalau tahu, dari praktikum ini sudah melahirkan ratusan dokter dan professor. Ini yang saya banggakan. Jadi kalau ada yang mengejek, ya saya diam saja. Malah kadang saya ajak gurau,” kata Main, seraya mengakui dengan merawat kadaver sehari-hari maka baginya sekaligus sebagai pembelajaran tentang hidup.

”Kita sekarang menjalani hidup begini, kalau nanti mati jadinya seperti ini. Karena itu saya berusaha agar hidup saya jangan sampai menyusahkan orang lain, dimanapun tempatnya. Disusahkan orang tidak apa-apa, tetapi jangan sampai menyusahkan orang lain,” tuturnya.

Sebagaimana banyak mahasiswa FK lainnya, ia menganggap kadaver adalah “guru” bagi para dokter. Melalui jasad manusia yang telah mati ini, para calon dokter belajar tentang anatomi manusia dan bagaimana mengobati manusia hidup. Malah ada juga beberapa orang yang menginginkan kelak ketika meninggal, jasadnya disimpan di Lab. Anatomi ini, artinya sebagai kadaver untuk belajar mahasiswa. Tetapi keinginan itu rata-rata tidak terlaksana karena setelah meninggal, sanak saudaranya tidak mengizinkan dengan dalih kasihan.

Sudah 33 tahun Cak Main menggeluti professi yang tidak biasa dijalani oleh setiap orang ini. Sesuai aturan pemerintah, dua tahun lagi ia memasuki masa pensiun. Namun sampai saat ini ia belum tahu siapa yang nanti “bisa” menggantikan professinya ini. “Ya nanti pasti ada. Yang penting sekarang bekerja secara maksimal saja,” pungkas Sumain. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu