Diskusi Gayeng dan Gerrr Antara UNAIR dan Elemen Masyarakat Surabaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana dalam diskusi saat perwakilan komunitas rek ayo rek memberikan pendapat kepada Rektor Universitas Airlangga (Foto: Yitno)

UNAIR NEWS – Suasana hangat melingkupi ajang diskusi bertajuk Silaturahmi Rektor Universitas Airlangga Bersama Komunitas Rek Ayo Rek (RAR), Tokoh Masyarakat, dan Media di selasar lantai 4 gedung Rektorat Rabu (30/3). Rektor, didampingi jajaran dan para dekan, tampak bersahabat saat berinteraksi dengan Ketua RAR Herman Riva’i, Ketua DPRD Surabaya Armudji, dan semua masyarakat yang ada di sana. Termasuk, para awak media yang antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Perwakilan dan pengurus Ikatan Alumni UNAIR juga datang untuk menyemarakkan diskusi.

Acara tersebut tambah terasa akrab karena dipandu oleh pakar komunikasi Drs Suko Widodo MSi. Pria yang juga Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) tersebut acap melontarkan joke segar di hadapan puluhan hadirin yang duduk melingkar di hadapan meja-meja bundar. Tak ayal, atmosfer gerrr-gerrr-an pun mewarnai suasana.

Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak., CMA. mengaku senang bisa berkumpul dengan semua elemen masyarakat lintas bidang. Ada yang memiliki latar belakang akademisi, politisi, birokrat, polisi, tentara, pengusaha, dan lain sebagainya. “Ini langkah awal. Setelah ini, pasti akan ada diskusi dan pertemuan lain yang tujuannya mencari solusi tiap masalah,” ungkap guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu.

Dia menyatakan, pintu kampus selalu terbuka untuk siapa saja. Khususnya, bagi mereka yang ingin mendapat saran dan masukan dari perspektif ilmiah tentang ragam topik. “Kami punya pakar di segala bidang. Yang kami tidak punya cuma uang. Makanya, kalau butuh uang jangan datang pada kami. Datang saja pada Pak Jamhadi (Pengusaha yang juga Ketua Kadin Surabaya, Red),” seloroh Rektor yang disambut tawa para hadirin. Kebetulan, Jamhadi waktu itu tepat duduk di hadapannya. Ditegaskan Nasih, Surabaya tidak hanya punya Tugu Pahlawan, Kenjeran, dan tetenger lainnya. Namun juga, ada UNAIR yang berlokasi di pusat kota. Maka itu,  sudah sepantasnya para wakil rakyat dan pemkot memaksimalkan potensi UNAIR.

Sementara itu, Herman berharap, komunitas RAR dan UNAIR dapat memberi perubahan pada kondisi sosial di Surabaya. “Segala masalah hanya bisa terselesaikan bila kita bersinergi. Di RAR ada banyak pakar atau “dekan”. Ada “dekan” urusan Pasar Turi seperti Pak Kemas, ada “dekan” urusan bisnis seperti Pak Jamhadi. Ada “dekan” urusan politik dan pemerintahan seperti Pak AH Thony. Makanya, sinergi kita bisa komplit,” urai dia diiringi tepuk tangan hadirin.

Event ini diapresiasi oleh pemerintah pusat. Kasubbag Komunikasi dengan Lembaga Biro Kerjasama & Kompublik Setjen Kemristekdikti Neni Herlina mengaku kagum dengan gagasan dicetuskannya diskusi ini. “Apa yang dilakukan UNAIR mematahkan persepsi yang banyak beredar dan menyebut kalau kampus adalah menara gading. Hari ini, terbukti jelas kalau kampus benar-benar bisa menyatu dengan masyarakat,” ungkap dia.

Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., Ph.D., FINASIM mengatakan, kampus memang harus memberi sumbangsih kongkret di masyarakat. Kegiatan kali ini hanyalah satu di antara sekian banyak program UNAIR untuk bisa menyentuh semua elemen. “Percuma ada universitas di suatu kota bila kota itu tidak merasakan manfaatnya,” tegas Djoko. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu