Belajar dari Jepang, Perawat Terjun Langsung ke Daerah Bencana

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Mariko Ohara sedang memberikan materi mengenai perawat yang tanggap bencana di Hall RS UNAIR (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Perawat harus jemput bola ke daerah-daerah yang terkena dampak bencana. Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Mariko Ohara dalam seminar penanganan bencana bertajuk “Disaster Management Intra and Extra Hospital” pada Senin (28/3)di Hall Lantai 8 Rumah Sakit Universitas Airlangga.

“Indonesia dan Jepang memiliki banyak kesamaan terkait dengan frekuensi bencana yang terjadi,” ujar Prof. Ohara selaku profesor di The Japanese Red Cross College of Nursing mengawali uraiannya.

Menurutnya, hal tersebut membawa implikasi pentingnya keperawatan bencana untuk diperhatikan. Keberadaan perawat di tengah kondisi bencana menurutnya amat diperlukan dalam upaya memberikan perawatan yang memadai kepada para korban bencana.

Perawat, lanjut Prof. Ohara, harus melakukan jemput bola ke daerah-daerah yang terkena dampak bencana tersebut. Para perawat juga disiapkan dengan berbagai kemampuan tanggap bencana melalui berbagai simulasi jenis bencana seperti gempa bumi, kecelakaan pesawat, dan lainnya.

Di Jepang sendiri terdapat Disaster Support Nurses yang berisi para perawat yang disiapkan untuk menghadapi bencana yang diinisiasi oleh Japan Nursing Association (Asosiasi Perawat Jepang).

“Ada daftar para perawat yang disiapkan untuk menghadapi bencana di setiap prefektur (provinsi). Misalkan terjadi bencana yang cukup besar di sebuah prefektur, perawat tanggap bencana dari prefektur lain juga dapat dilibatkan untuk membantu,” tandasnya. Berbagai hal tersebut telah diatur dalam Disaster Relief Act, regulasi yang khusus mengenai penanganan bencana yang terjadi di Jepang.

Di akhir pemaparannya, Prof. Ohara mengingatkan bahwa para perawat di tengah bencana harus saling bahu-membahu membantu para korban. Meskipun di tengah berbagai keterbatasan yang ada, tidak boleh para perawat saling menyalahkan.

“Yang tidak kalah penting, setiap daerah punya adat dan kebiasaan. Para perawat juga harus memperhatikan tersebut ketika ditugaskan di daerah bencana,” pungkas perempuan yang pernah menjadi sukarelawan di Aceh ketika terjadi gempa dan tsunami lebih dari satu dekade lalu ini. (*)

Penulis : Yeano Andhika
Editor : Defrina Sukma Satiti

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu