Tantangan Baru Teknisi Perpustakaan di Era Digital

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kontras: Mia Argianti (Tengah), dari portal klikdokter.com ketika berfoto bersama mahasiswa Teknisi Perpustakaan, Fak. Vokasi UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Era digital, dimana dunia cyber berkembang begitu pesat merambah ke berbagai bidang, membuat berbagai kebutuhan (apapun) bisa dipesan secara online melalui akses internet. Semua bisa dipesan tanpa pemesannya harus datang ke tempat pemesanan. Konsekuensi ini menuntut seseorang harus beradaptasi dan berkompetisi, apalagi jika layanan itu dirasa lebih menguntungkan konsumen karena lebih cepat, mudah, dan murah, maka itulah yang dipilih.

Demikian antara lain mengapa Himpunan Mahasiswa D3 Teknisi Perpustakaan Fakultas Vokasi  Universitas Airlangga menyelenggarakan kuliah tamu bertema “Digital Entrepreneurship”, di Aula Fakultas Vokasi Jl. Srikana Surabaya, Rabu (23/3). Disini mereka menghadirkan Mia Argianti, kepala portal kesehatan klikdokter.com.

“Di era digital ini segala hal berubah cepat dan pasti. Semua orang harus siap beradaptasi dan berkompetisi. Penyedia jasa atau layanan juga harus mencari apa yang dibutuhkan konsumen,” ujar Mia, lulusan prodi Ilmu Perpustakaan dari salah satu universitas di Bandung.

Portal klikdokter.com menyediakan layanan konsultasi kesehatan dengan dokter yang ahli dibidangnya. Memenuhi kebutuhan konsumen di era digital ini, konsultasi pun dapat dilakukan secara online tanpa harus datang ke rumah sakit, klinik, atau ke dokter pribadi. Sehingga portal ini memiliki 25 dokter umum dan 16 dokter spesialis untuk melayani konsultasi kesehatan.

Mengapa portal ini memilih kesehatan sebagai bidang yang digarap melalui online, menurut Mia, karena kesehatan merupakan hal penting, dimana masyarakat membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan ini. Selain itu, salah satu kelemahan informasi di jagad cyber saat ini adalah keakurasian informasi, sebab pasien dapat berkonsultasi langsung dengan dokter sekaligus mengetahui profil dan kemampuan dokter tersebut.

Secara terpisah, Mia menuturkan bahwa tantangan mahasiswa Tekniknisi Perpustakaan ialah bagaimana dengan memanfaatkan media digital untuk membuat masyarakat memiliki minat baca yang tinggi. “Tumbuhkan jiwa untuk bisa memberikan pekerjaan atau pelayanan bagi orang lain. Jangan takut rugi atau gagal, di era digital ini yang dicari bukan orang pintar atau cerdas, tetapi orang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan,” kata Mia.

Endang Fitriah Mannan, S.Sos. M. Hum., ketua program studi Teknisi Perpustakaan berharap yang disampaikan oleh nara sumber tadi dapat menginspirasi mahasiswa untuk melakukan inovasi-inovasi terbaru di bidang perpustakaan yang melibatkan teknologi digital.

“Perpustakaan itu kontennya hampir 50% tentang teknologi, dan disini teknologi kami anggap sebagai alat atau tool. Tapi bagaimana mengelola kontennya, itu bidang garapan kami. Jadi bagaimana konten-konten yang ada di perpus juga bisa di-online-kan. Makanya ada konsep perpustakaan tanpa dinding atau library without wall atau digital library,” tutur Endang.

Menurutnya, tantangan bagi dunia perpustakaan adalah bagaimana melahirkan layanan perpustakaan yang dapat diakses seperti bisnis online. Perpustakaan yang kontennya tidak hanya digunakan secara konvensional, namun sudah dapat dinikmati oleh orang yang ada di rumah, karena informasi katalog dapat dilihat secara online, namun konten full teks secara online belum ada.

”Harapan kami mindset mahasiswa Teknisi Perpustakaan nanti tidak hanya bekerja di perpus, terkait buku-buku yang tercetak, tetapi bisa melahirkan inovasi yang melibatkan teknologi tinggi,” katanya. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor : BE Santoso

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu