Pecel Airlangga
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter2Email this to someone
image_pdfimage_print

RADIO UNAIR – Makanan pecel adalah makanan yang sering kita jumpai di kala pagi. Pecel biasanya dijajakan di pinggir jalan dengan pincuk yang khas sebagai wadah pengganti piring.

Dimas Farid, Mahasiswa Akuntansi Universitas Airlangga ini ingin menyajikan pecel dengan nuansa lain. Dia ingin membuat orang menikmati pecel dengan suasana bintang lima namun harga kaki lima. Hal ini mendorongnya membuat usaha yang dinamakannya Pecel Airlangga.

Rumah Makan (RM) Pecel Airlangga baru dia rintis sejak Desember 2015. Lokasinya di Jalan Srikana Timur. Di sana, Dimas menyuguhkan sajian pecel yang biasa kita nikmati di pinggir jalan sebagai menu utama. Dengan ruangan full AC dan Free Wi-Fi , pembeli bisa menikmati pecel dengan nuansa berbeda.

Meski RM ini berjuluk Pecel Airlangga, menu yang ditawarkan bermacam macam, antara lain Rawon, Sayur Asem, Nasi Goreng, Ayam Goreng, Jus Buto dan lain-lain. Untuk harga, Dimas tetap mematok harga yang bisa dijangkau kantong mahasiswa antara Rp 7.000,- hingga Rp 25.000,-.

Usaha Kuliner Berbasis Syariah 

Awal mula Dimas memulai usaha ini karena kecintaannya pada kuliner. Dia memang berniat menekuni bisnis kuliner. Di awal 2012, dia pernah memiliki  usaha Rice Box bersama salah seorang rekannya. Namun karena ada beberapa halangan, usahanya berhenti.  Itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap bangkit dan memulai usaha baru.

Menjadi bagian dari komunitas IIBF (Indonesian Islamic Bussiness Forum) mempertemukannya dengan seorang rekan yang mau membantunya memulai usaha. Rekan inilah yang akhirnya menjadi investor Pecel Airlangga. Dimas berpegang teguh pada prinsip ekonomi Islam yang tidak menganjurkan ada unsur Riba dalam perdagangan.

Untuk memulai usahanya, dia hanya mengandalkan investor dan tak meminjam uang kepada instansi manapun yang ada bunganya. Dengan menerapkan ekonomi Islam, dia merasa usahanya lebih barokah. Dia memiliki kepuasan tersendiri dengan tidak hanya mengumpulkan materi namun juga moril.  Menurutnya, usaha yang dia kelola merupakan salah satu sarana untuk mencari Ridho Tuhan. (*)

Penulis: Faridah Hari
Editor: Iwan Iwe

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter2Email this to someone