Museum Etnografi FISIP UNAIR Angkat Tema Kematian

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kepala Museum dan Pusat Kajian Etnografi FISIP UNAIR, Toetik Koesbardiati, Ph.D, menjelaskan koleksi museum kepada Dirjen Kebudayaan, Wakil Rektor III UNAIR, dan Dekan FISIP UNAIR.

UNAIR NEWS – Usai direnovasi dan direvitalisasi selama sebulan lamanya, Museum dan Pusat Kajian Etnografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, kini telah diresmikan. Pada hari Senin (21/3), Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hilmar Farid meresmikan museum yang berada di bawah naungan FISIP.

Hilmar meresmikan museum etnografi itu dengan didampingi oleh Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Harry Widianto, Dirjen Kebudayaan RI tahun 2011-2015 Prof. Kacung Marijan, Wakil Rektor III UNAIR Prof. M. Amin Alamsjah, Ph.D, dan Dekan FISIP UNAIR Dr. Falih Suaedi, M.Si.

Dalam sambutannya, Hilmar menganggap bahwa museum merupakan tempat pengumpulan informasi dan sumber pengetahuan. Namun, permasalahan yang dihadapi oleh museum secara umum adalah kurangnya komunikasi publik. Bagi Hilmar, pengurus museum harus aktif melibatkan publik dalam berbagai program yang diadakan oleh museum.

“Saya berharap agar museum ini tidak hanya fokus pada pengumpulan informasi, tetapi juga aktif melakukan komunikasi terhadap publik, agar publik merasa memiliki. Setidaknya, sivitas akademika UNAIR dulu lah harus mempunyai rasa memiliki terhadap museum ini. Saya berharap museum etnografi bisa menjadi contoh bagi museum lainnya,” tutur Hilmar.

Dirjen Kebudayaan itu berharap agar pengurus museum etnografi FISIP UNAIR ini aktif mengadakan berbagai program untuk melibatkan partisipasi publik. Apabila pihak FISIP UNAIR mengajukan banyak program bagus yang berkaitan operasional museum, Hilmar berjanji untuk menambah alokasi anggaran untuk museum etnografi FISIP UNAIR. Sebelumnya, museum etnografi FISIP telah memperoleh anggaran sekitar Rp. 300 juta untuk renovasi museum.

Senada dengan Hilmar, Falih selaku Dekan FISIP berharap bahwa keberadaan museum dapat dijadikan sebagai instrumen untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya pendekatan budaya. Oleh karena itu, Falih menganggap bahwa bangsa Indonesia akan semakin kokoh apabila masyarakat mengetahui akar budaya melalui museum.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menandatangani batu tulis sebagai tanda resmi Museum dan Pusat Kajian Etnografi bisa dinikmati masyarakat umum. (Foto: UNAIR NEWS)
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menandatangani batu tulis sebagai tanda resmi Museum dan Pusat Kajian Etnografi bisa dinikmati masyarakat umum. (Foto: UNAIR NEWS)

Museum dan Pusat Kajian Etnografi sebenarnya telah diresmikan oleh Rektor UNAIR pada tanggal 25 September 2005. Museum etnografi milik FISIP UNAIR telah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Museum Daerah (AMIDA), Jawa Timur. Sejak masa berdiri hingga sekarang, museum etnografi tak sepi dari prestasi. Pada tahun 2014, museum etnografi meraih juara II bidang tata pamer tingkat provinsi. Sedangkan, pada tahun 2015, museum etnografi meraih juara harapan I bidang tata pamer tingkat provinsi.

Museum etnografi ini mengangkat tema tentang Kematian. Kepala Museum dan Pusat Kajian Etnografi FISIP UNAIR, Toetik Koesbardiati, Ph.D, mengatakan bahwa kematian merupakan siklus hidup yang cukup dekat dengan manusia. Walaupun di masyarakat kematian cukup ditakuti dan jarang dibicarakan, kematian merupakan hal yang paling penting dipikirkan oleh manusia.

“Hal ini dibuktikan dari sangat beragamnya upacara kematian di Nusantara. Bahkan, upacara kematian itu sendiri memakan biaya yang sangat banyak,” tutur Toetik.

Oleh karena itu, dengan adanya informasi mengenai kematian melalui museum etnografi, masyarakat bisa mengenal tentang ritus kematian berbagai suku dan kehidupan masa lampau. (*)

Penulis: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu