Chairul Tanjung Bicara Ekonomi Global Terkini

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. (HC) Chairul Tanjung sedang memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa FEB yang memenuhi Aula Fajar Notonagoro, Senin (21/3) (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Prof. Dr. (HC) Chairul Tanjung memberikan kuliah umum bertajuk ‘Dinamika Perekonomian Global dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Nasional’, Senin (21/3). Bertempat di Aula Fajar Notonagoro, kuliah umum pria yang akrab disapa CT tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa FEB UNAIR dari program sarjana hingga doktoral.

“Perekonomian hari ini sifatnya borderless. Maka sebuah negara tidak bisa independen berdiri sendiri tanpa pengaruh dari negara lain,” ujar CT membuka kuliah umum. Menurutnya, kondisi perekonomian global pasti akan memiliki dampak bagi perekonomian nasional.

Mantan Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini mengibaratkan perekonomian global saat ini sebagai sebuah pesawat yang mesin-mesinnya sedang mengalami masalah. Kekuatan ekonomi yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi global seperti Cina, BRICS, Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat sedang menghadapi tantangan dalam menggerakkan perekonomiannya masing-masing.

“Inilah yang menyebabkan perekonomian global penuh ketidakpastian saat ini,” tambahnya.

Negative interest rate (suku bunga negatif) yang tidak lazim diterapkan dalam kebijakan ekonomi dewasa ini juga telah diadopsi oleh Bank Sentral Jepang dan Bank Sentral Eropa.

“Tujuannya jelas, supaya uang itu tidak disimpan di bank melainkan disalurkan ke pasar sehingga ekonomi bisa tumbuh,” tegasnya.

Selain kebijakan quantitative easing (QE) yang dihentikan oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed yang menyebabkan larinya modal asing dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia, turunnya harga komoditas terutama minyak juga berkontribusi pada semakin tidak bergairahnya perekonomian global.

Terkait dengan kondisi perekonomian nasional, CT menyebut bahwa kondisi perekonomian nasional saat ini sudah mulai membaik.

The worst is over, but recovery is not fast enough. Kondisi ekonomi kita ke depan mungkin tidak akan lebih buruk dari tahun 2015, tapi recovery-nya memang terlalu lambat,” ujar konglomerat pemilik CT Corp tersebut.

Terkait pembangunan infrastruktur yang saat ini gencar dilakukan oleh pemerintah, dalam kesempatan itu ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur memang penting namun hal tersebut tidak bisa digunakan sebagai variabel utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi.

“Porsi pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi kecil,” ujarnya lantas menjelaskan bahwa selama ini pertumbuhan ekonomi nasional lebih banyak didorong oleh sektor konsumsi domestik. Maka menurutnya, salah satu hal yang harus juga dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi adalah dengan menciptakan iklim yang baik untuk dunia usaha.

Di tengah tantangan perekonomian saat ini, sarjana kedokteran gigi yang banting setir menjadi pebisnis ini mengingatkan perlunya ‘pilot’ yang berpengalaman dalam menelurkan kebijakan-kebijakan ekonomi. Ia juga menegaskan bahwa penting bagi pemerintah untuk terus memastikan harga pangan yang stabil di masyarakat.

“Itu kuncinya. Meskipun harus diakui hal tersebut merupakan pekerjaan paling sulit di dunia,” ujar Mantan Menko Perekonomian ini.

Di akhir kuliah umumnya, CT menebar optimisme bahwa dalam setiap krisis pasti melahirkan peluang. Ia mengimbau pemerintah untuk tetap menjalankan politik ‘seribu kawan, nol musuh’. Bahwa sebagai ‘kapal kecil’, Indonesia harus menjalin hubungan baik dengan semua negara di dunia serta tidak condong mendekat ke ‘kapal besar’ tertentu yang berpotensi menghempas perekonomian nasional. (*)

Penulis : Yeano Andhika
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu