Ketua BNPB Beri Wawasan Bencana Pada Mahasiswa Lintas Bidang di Pasca Sarjana

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
dr Bagus Tjahjono MPH saat berbagi cerita tentang bencana alam di gedung Pasca Sarjana Jum’at (18/3). (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Semua elemen masyarakat harus peduli pada bencana. Bahkan, persoalan potensi dan pengurangan risiko bencana, mesti selalu terkorelasi dengan rancangan atau rencana pembangunan jangka panjang dan menengah di level pusat maupun daerah. Sebab, Indonesia merupakan kawasan yang kaya mineral. Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah adanya banyak potensi bencana alam.

Pengetahuan tentang bencana pun perlu dimiliki oleh semua pihak dari beragam latar belakang. Sebab, problem ini berhubungan erat dengan semua lini. Misalnya, saat terjadi bencana kebakaran di hutan Sumatera dan Kalimantan. Efeknya, lintas sektor.

Di aspek ekonomi dan bisnis, kabut asap berdampak kerugian material. Di aspek politik, bencana tersebut mempengaruhi hubungan Indonesia dengan negara tetangga. Di aspek hukum, persoalan itu pasti bakal merembet ke ranah pengadilan terkait boleh dan tidak, serta hukuman, dari tindakan membakar hutan.

Wakil Direktur Pasca Sarjana UNAIR Prof. Dr. Anwar Ma'ruf, M.Kes, drh (kanan) berbincang bersama mahasiswa yang hadir dalam seminar umum dr Bagus Tjahjono MPH di gedung Pasca Sarjana Jum’at (18/3). (Foto: UNAIR NEWS)
Wakil Direktur Pasca Sarjana UNAIR Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, M.Kes, drh (kanan) berbincang bersama mahasiswa yang hadir dalam seminar umum dr Bagus Tjahjono MPH di gedung Pasca Sarjana Jum’at (18/3). (Foto: UNAIR NEWS)

Demikianlah sejumlah poin yang disampaikan oleh dr Bagus Tjahjono MPH, Ketua Diklat PB Badan Nasional Penanggulangan Bencana saat mengisi kuliah umum tentang manajemen bencana di gedung Pasca Sarjana UNAIR Jumat pagi (18/3).

“Menurut saya, wawasan tentang bencana harus disampaikan di semua sekolah, kampus, dan berbagai kesempatan. Semua orang Indonesia wajib sadar tentang cara penanggulangan bencana,” ungkap dia di hadapan puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas.

Pria yang sering bolak-balik ke luar negeri untuk melakukan konferensi ini membuat analogi. Di Surabaya, mungkin saat ini tidak ada ancaman tsunami. Namun, bukan berarti orang Surabaya tidak akan pergi ke Mentawai atau daerah rawan tsunami di suatu saat nanti. Maka itu, tidak ada salahnya orang-orang Surabaya memiliki pengetahuan tentang tsunami dan cara pencegahan atau reduksi resikonya.

“Dulu, saat terjadi tsunami di Sri Lanka, ada seseorang yang justru mendapat pengetahuan tentang tsunami saat berada di Inggris. Orang tersebut bisa menolong banyak warga Sri Lanka dari efek tsunami yang dashyat karena pengetahuan yang didapatnya dari tempat yang tidak memiliki potensi tsunami,” tegas Bagus. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu