Publikasi Ilmiah Jadi Kunci Menuju World Class University

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Staf ahli bidang pengeluaran negara Kemenkeu Purwiyanto (kiri) , Sekretaris MWA UNAIR Iman Prihandono (tengah), dan Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Prof. Ali Ghufron Mukti (kanan) di aula garuda mukti. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Salah satu hal yang menjadi fokus dalam pertemuan Majelis Wali Amanat (MWA) sebelas PTN BH hari pertama adalah terkait dengan optimalisasi dukungan pemerintah bagi PTN BH untuk bisa mencapai world class university (WCU). Status PTN BH yang disandang perguruan tinggi diharapkan mampu membuat PTN BH bergerak lebih cepat menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D yang hadir dalam acara tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendukung PTN BH sehingga bisa masuk dalam peringkat 500 besar dunia. Namun demikian, menurutnya untuk bisa menjadi perguruan tinggi berkelas dunia, kampus wajib meningkatkan publikasi ilmiahnya.

“Masih banyak dosen-dosen kita yang ‘tidur’,” ujarnya sambil mengingatkan bahwa posisi Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand terkait dengan jumlah publikasi ilmiah.

Guru Besar FK UGM tersebut juga mengkritik perilaku beberapa guru besar yang produktivitas penelitiannya justru menurun setelah dikukuhkan menjadi guru besar.

“Kita sudah kirim surat edaran kepada para rektor agar memfasilitasi para guru besar agar tetap produktif,” tambahnya. Pihaknya juga mengaku tidak segan akan menurunkan anggaran yang diberikan kepada perguruan tinggi jika tidak mampu melaksanakan hal tersebut.

Menurutnya dosen tidak boleh lebih disibukkan dengan urusan-urusan administratif yang justru mengurangi waktu mereka untuk melakukan penelitian, yang tentu saja pada akhirnya membuat mereka kurang produktif dalam menerbitkan publikasi ilmiah.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi saat ini bukan lagi sekadar agen pendidikan, lebih dari itu perguruan tinggi punya kewajiban untuk menjadi penggerak ekonomi melalui berbagai inovasi riset yang dihasilkan.

Pria yang sebelumnya merupakan Wakil Menteri Kesehatan tersebut juga mengungkapkan bahwa pemerintah mulai tahun ini telah menganggarkan dana untuk merekrut dosen peneliti asing di perguruan tinggi.

“APBN 2016 kita anggarkan untuk 40 orang, di APBN-P 2016 kita buat jadi 100 orang,” ungkapnya. Menurutnya, para dosen peneliti asing yang direkrut nantinya benar-benar harus  memiliki standar yang baik sehingga kehadirannya bisa memberikan dampak bagi perguruan tinggi yang bersangkutan. Mereka diharapkan dapat bekerjasama dengan dosen lokal untuk bisa menghasilkan penelitian-penelitian berkualitas yang nantinya bisa meningkatkan jumlah publikasi ilmiah. (*)

Penulis : Yeano Andhika

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu