Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D saat memberikan materi dalam sosialisasi tentang dosen klinis (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Direktur Jenderal Sumber Daya, Ilmu Pengetahuan Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kemenristek Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, memberikan sosialisasi bertema ‘Sosialisasi Karir Dosen Klinis’ di hadapan dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, dan Universitas Islam Malang. Sosialisasi itu dilakukan di Aula Rumah Sakit UNAIR pada Kamis (17/3). Jajaran pimpinan UNAIR seperti Rektor, Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Direktur RS, serta Dekan FK turut hadir dalam kesempatan itu.

Pada kesempatan yang sama, Dekan FK UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U, ketika diwawancarai mengatakan hampir separuh pengajar di FK UNAIR berstatus dosen pendidik klinis. Sedangkan, sebagian pengajar lainnya berstatus sebagai dosen akademis yang memperoleh status dari Kemenristek-Dikti.

“Supaya mereka (dosen pendidik klinis) memiliki kenaikan karir, maka mereka harus mengurus NIDK (nomor induk dosen khusus). Sekarang sedang diurus. Mengurusnya itu mudah, hanya kadang-kadang tergantung dengan kemauan masing-masing orang. Kita pacu agar mereka bisa meningkatkan diri,” tutur Prof. Soetojo.

Dari sekitar 200 pengajar FK UNAIR yang sedang mengurus NIDK, baru sekitar 4 pengajar yang persyaratannya diterima oleh Dikti. Dekan FK UNAIR itu menambahkan bahwa peraturan yang ditetapkan Dikti dalam pengurusan NIDK itu kerap kali berubah.

“Persyaratan yang mereka ajukan ditolak karena belum lengkap. Ini disebabkan oleh peraturan dari Dikti yang berubah-ubah. Ada dari mereka yang disuruh untuk melengkapi nomor induk ketika menjadi mahasiswa, dan sebagainya,” tutur Guru Besar bidang Urologi FK UNAIR.

Menanggapi hal ini, Ghufron berjanji agar direktorat yang tengah dipimpinnya kini segera memroses berkas pengajuan NIDK yang dikirim oleh pihak FK UNAIR. “Paling lama sekitar satu bulan lah. Tolong saya diingatkan,” tutur Ghufron.

“Kami berusaha memberikan pengakuan dengan terobosan kepada para dokter dengan nomor induk dosen khusus agar para dokter itu bisa memproses (kenaikan karirnya) sampai ke jenjang profesor, asal memenuhi syarat dan memenuhi rekomendasi. Itu berlaku paling tidak pada tahun 2016. Di UNAIR saja jumlahnya bisa sekitar 200-an. Di Indonesia, ada sekitar 74 fakultas kedokteran. Jadi, ada sekitar 1400 sampai 1500 NIDK,” imbuh Dirjen Dikti itu.

NIDK ini merupakan kebijakan pemerintah untuk menambah kecukupan rasio dosen dan mahasiswa. Pihak kampus bisa mengajukan NIDK seorang dosen yang berasal dari kalangan praktisi yang memiliki kemampuan mengajar. Salah satu profesi yang bisa memberikan pengajaran adalah dokter. Dengan kepemilikan NIDK, seorang dosen berpotensi untuk menambah jenjang karirnya hingga ke tingkat profesor sesuai dengan syarat yang diajukan oleh Kemenristek-Dikti. (*)

Penulis: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone