Roadshow ANU Indonesia Project Soroti Lemahnya Pembangunan Infrastruktur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ANU
Suasana roadshow Australian National University (ANU) Indonesia Project di FEB UNAIR, Selasa (6/3). (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Australian National University (ANU) Indonesia Project mengadakan roadshow Forum Kajian Pembangunan di FEB UNAIR, Selasa (6/3). Bertempat di Aula ABC, empat orang pakar yakni Dr. Arianto Patunru (ANU Indonesia Project), Dr. Khoirunurrofik (LPEM FEB UI), Dr, Panky Febiansyah (LIPI), dan Dr. Bambang Eko Afiatno (FEB UNAIR) menjadi pembicara dalam acara tersebut.

Arianto Patunru mengawali acara dengan pemaparan mengenai ekspor Indonesia, hal yang tentunya penting dalam upaya mendukung pembangunan nasional. Ia menjelaskan bahwa selama ini sebenarnya perbandingan jumlah ekspor dan impor Indonesia masih dapat dikatakan sejajar dengan negara-negara tetangga.

Upaya peningkatan ekspor yang terus dilakukan tentunya juga harus didukung pembangunan infrastruktur. Sorotan pembangunan di sektor infrastruktur inilah yang menjadi perhatian tiga pembicara lainnya.

“Pembangunan Infrastruktur di daerah merupakan tantangan bagi pemerintah. Ini perlu mendapat perhatian khusus,” ujar Panky Fabiansyah. Dalam kesempatan tersebut ia menjelaskan bahwa buruknya infrastruktur juga sangat merugikan masyarakat dari segi sosial maupun ekonomi.

Ia mengambil contoh kondisi masyarakat di daerah Kapuas, Kalimantan Tengah yang harus mengeluarkan biaya hingga lima juta rupiah untuk sekadar biaya transportasi pulang-pergi menuju puskesmas terdekat. Hal ini disebabkan buruknya infrastruktur yang memaksa masyarakat untuk mengandalkan perahu sebagai alat transportasi satu-satunya.

Dalam kesempatan itu, pembangunan sektor maritim juga disoroti. Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Khoirunurrofik memberi catatan mengenai pentingnya konektivitas maritim dalam pembangunan nasional. Masalah-masalah yang ada dalam upaya membangun sektor maritim seperti biaya perjalanan (logistik) yang masih mahal serta infrastruktur yang belum memadai harus sesegera mungkin diatasi.

Ekonom UNAIR, Bambang Eko Afiatno menyampaikan potensi Jawa Timur, khususnya Surabaya yang memiliki pelabuhan besar dalam upaya membangun konektivitas transportasi laut.

“Lebih dari 50 persen perdagangan domestik dilakukan di Indonesia bagian barat, 40 persenan di Indonesia bagian Timur,” ujarnya. Surabaya yang menurutnya lebih baik daripada Jakarta terkait sektor perdagangan melalui jalur laut, perlu melakukan pembenahan infrastruktur di pelabuhannya. Infrastruktur yang baik akan semakin membuat Surabaya dan Jawa Timur memiliki peran besar dalam pengembangan sektor maritim nasional. (*)

Penulis: Akhmad Janni
Editor: Yeano Andhika

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu