Warek II UNAIR Muh. Madyan, Optimalkan Peran Support System

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MUHAMMAD Madyan, menjadi Wakil Rektor II merupakan amanah besar. (Foto: Nuri Hermawan)

UNAIR NEWS –Memiliki nama lengkap Muhammad Madyan, laki-laki yang kini mendapat amanah sebagai Wakil Rektor (Warek) II Universitas Airlangga (UNAIR) tersebut, lahir pada 4 Januari 1971 di Kota Martapura, Kalimantan Selatan. Besar dan tumbuh di tengah lingkungan pesantren,  Madyan mengawali pendidikan dasarnya pada sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI), namun pendidikannya di MI tersebut tidak sempat selesai, karena ia dan keluarga terpaksa hijrah ke Ibu kota.

Hidup di kota besar, tentu saja lingkungan hidupnya di Jakarta sangat berbeda jauh dengan di Martapura. Mantan direktur keuangan UNAIR tersebut bertempat tinggal di pemukiman padat penduduk, tepatnya di daerah Kayu Manis Jakarta Timur. Saat pindah ke Jakarta, ia harus terpaksa mengulangi pendidikan dasar dari awal. Hal tersebut disebabkan sewaktu menempuh pendidikan di MI tidak ada buku laporan belajar.

“Dulu waktu di MI tidak ada rapor hasil ujian, kalau naik kelas ya sekedar diumumkan saja, makanya ketika pindah sekolah lagi di SDN 12 Petang Jakarta Timur, saya harus mengulang dari awal,” kenangnya sembari sedikit tertawa.

Tumbuh menjadi anak ibu kota memang membuat Madyan hidup dengan penuh dinamika. Kenakalan anak seusianya waktu itu dan keterbatasan lahan bermain menjadi warna bagi kehidupan anak keenam dari sembilan bersaudara tersebut. Tidak jarang ia harus main bola di bantaran rel kereta api, bahkan ia sempat menceritakan pengalaman melihat teman sebayanya yang melakukan tindakan tidak terpuji di salah satu pusat perbelanjaan.

“Bayangkan saya harus hidup di tengah-tengah lingkungan yang seperti itu, ya meski kadang saya nakal waktu itu, tapi saya tetap berprestasi di sekolah,” tuturnya.

Prestasi laki-laki yang juga sempat menjabat sebagai ketua progam studi D3 Manajemen Pemasaran tersebut, dibuktikan dengan diterimanya ke SMPN  7 Hutan Kayu, salah satu sekolah favorit yang menjadi tempat belajar selanjutnya. Ia juga mengisahkan bahwa saat sekolah di tingkat SMP sering naik bus umum dan tidak jarang ia harus menempuh waktu selama 30 menit dengan naik sepeda. Madyan juga kembali mengisahkan bahwa kenakalan dan keusilannya masih dilakukan saat usia SMP, meski demikian orang tuanya sangat ketat dalam mendidik kesembilan anaknya.

“Meski saya dulu SMP masih cukup nakal, tapi Bapak saya sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya, satu contoh, hampir tiap malam beliau selalu mengecek kamar kami, apabila masih ada yang di luar ya harus dicari untuk disuruh pulang,” paparnya.

Perhatian dan kedisiplinan orang tua Madyan dalam mendidiknya tidak berhenti sampai di situ. Saat akan memasuki jenjang SMA, ia dipindah sub-rayon oleh bapaknya, hal ini dilandasi dengan mempertimbangkan lingkungan tempatnya ia belajar. Madyan pun diterima di SMAN 12 Jakarta Timur, saat belajar di jenjang salah satu SMA favorit inilah ia kembali menemukan lingkungan yang mendukung kehidupan keagamaanya. Ia aktif dalam organisasi keIslaman di sekolahnya. Hingga akhirnya pendidikan SMA pun diselesaikan pada tahun 1991.

Menemukan UNAIR

Setelah selesai dari pendidikan SMA, Sekretaris Senat FEB tahun 2007-2009 tersebut, diminta orang tuanya untuk melanjutkan kuliah ke salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Selatan. Ia menceritakan bahwa selain studi, ia juga diminta untuk menemani kakaknya yang sudah menikah di Banjarmasin. Namun hal berbeda dirasakan saat studi di sana, ia tidak nyaman dengan iklim pendidikan di tempat ia belajar.

“Saat kuliah Manajemen di sana, saya merasakan ada iklim pendidikan yang berbeda dengan di Jawa, dan keinginan saya untuk sekolah ke Jawa sangat kuat,” paparnya.

Setelah setahun menempuh kuliah di tanah kelahirannya, Madyan akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) kembali. Meski demikian ada hal yang membuatnya ragu, yakni tentang restu dari orang tuanya. Hingga saat pengumuman tiba, Madyan akhirnya di terima di program studi yang sama di UNAIR.

“Saya akhirnya diterima di Manajemen UNAIR. Nah, solusi agar bapak mengizinkan pada waktu itu, saya berfikir bahwa yang bisa menjelaskan hal ini adalah paman saya, dengan berbagai alasan alhamdulillah disetujui,” tuturnya.

Empat tahun tepat, Madyan akhirnya menyelesaikan studi S1 Manajemen di UNAIR dengan predikat wisudawan terbaik. Setelah selesai menempuh jenjang S1, Madyan mendapat tawaran untuk menjadi dosen di FE UNAIR. Sembari mengajar, dosen yang pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pelatihan LPMB FEB UNAIR tersebut, juga melanjutkan kuliah Magister Ilmu Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Keuangan di Pascasarjana UNAIR. Merasa ingin memperdalam keilmuannya dibidang manajemen keuangan, ia kembali studi melanjutnkan studi master di Master of Finance University of Wollongong Australia. Di tahun 2009 ia pun menempuh studi doktoralnya pada salah satu kampus ternama di kota Malang.

Terapkan Support System

Mengenai amanah barunya sebagai warek II UNAIR, mulanya ia kaget saat diberi amanah tersebut. Madyan menilai bahwa menjadi warek II tidaklah mudah, baginya itu adalah amanah besar, resikonya juga besar, dan tanggung jawab yang besar pula.

“Mulanya saya memang kaget, ini jabatan yang besar dan resikonya juga besar, tapi saya kembali berfikir bahwa hidup ini tidak lepas dari sekenario Allah, bahkan sehelai daun yang jatuh juga atas izin-Nya, maka saya jadi warek II sekarang ini sejatinya juga atas kehendak-Nya,” imbunya.

Sadar memikul tanggung jawab yang besar, Madyan punya cara tersendiri untuk menjalankan tugasnya. Ia menegaskan pentingnya support system dalam mengatur beragam tanggung jawab. Hampir tiap pekan ia dan mitra kerja yang terkain dengan bidang warek II selalu melakukan koordinasi mengenai berbagai hal yang akan dikerjakan, selain itu ia juga selalu melakukan kontrol dan evaluasi dengan rutin.

“Menjadi warek II ini kan membawahi banyak bidang, ya keuangan, SDM, sarana prasarana, dan ingat target menuju 500 dunia itu perlu sebuah kesiapan yang melibatkan semua elemen tersebut,” tandasnya.

Fungsi support system ia nilai tidak berhenti di situ, ia juga menyinggung adanya SK Rektor yang memberikan dana hibah sebesar 50 juta pada dosen yang jurnalnya terpublikasi international dan terindeks scopus. Perannya sebagai bidang pendanaan sangatlah penting, pasalnya dengan dana yang digelontorkan lancar, banyak penelitian yang terpublikasi.

“Dana yang besar untuk para dosen yang aktif meneliti ini kami yang mempersiapkan dan menyediakan, jika dana lancar, penelitian semakin banyak, maka harapannya guru besar yang dilahirkan UNAIR juga akan semakin banyak pula, inilah yang dinamakan efek multiplier,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Bambang BES

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu