Warek III UNAIR M. Amin Alamsjah, Jadi Guru karena Ingin Cetak Pemimpin

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
WAREK III Prof. Moch Amin Alamsyah, ingin membantu mewujudkan generasi masa depan. (Foto: Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Bagi Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D, Ir., M.Si., Ph.D., menjadi guru merupakan pilihan terbaik karena bisa memberi manfaat bagi orang lain. Dengan menjadi guru ia dapat menularkan ilmu yang dimiliki kepada anak didiknya: orang lain, sehingga bisa membantu mencetak generasi masa depan untuk mampu menjadi pemimpin bangsa Indonesia di kancah dunia.

Cita-citanya terpenuhi, setelah menjadi dosen, kini ia menerima amanah sebagai Wakil Rektor III Universitas Airlangga. Anak tertua dari enam bersaudara kelahiran 16 Januari 1970 ini mengaku sejak kecil sudah rajin mengaji yang dibimbing kedua eyangnya. Kedisiplinan pun ditanamkan padanya sejak dini. Sebelum adzan Subuh, Amin kecil sudah dibangunkan oleh embah putrinya untuk segera bersiap salat Subuh di langgar. Selesai salat Amin mengaji Alquran bersama adik-adiknya: empat laki-laki dan seorang perempuan.

”Saya ingat betul bagaimana nenek selalu mendengarkan dengan saksama ketika kami sedang mengaji,” kata Prof. Moch. Amin Alamsyah. Kemudian semasa SMA setiap sore meluangkan waktu untuk membaca buku di sebuah toko buku di Kota Surabaya. Disitu ia sempat memikirkan masa depannya bahwa tak ingin pendidikannya terhenti pada SMA, sebab sebagai anak sulung ia punya motivasi untuk menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Karena itu ia terpikir untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Pilihannya pada jurusan perikanan. Pilihan itu terilhami setelah melihat kondisi tambak milik orangtuanya yang tidak memberi hasil optimal. Ia diterima di jurusan perikanan di Universitas Brawijaya. Cita-citanya saat itu untuk menjadi seorang petambak dan memberdayakan tambak milik kakeknya, sudah terbayang. Karena itu setelah lulus menjadi sarjana perikanan, Ir. Amin Alamsyah mencari pengalaman dengan bekerja sebagai pegawai tambak di Situbondo. Tetapi karena lingkungannya tidak mendukung, ia keluar dan bersinisiatif mencari pekerjaan baru yang dapat memberikan manfaat langsung bagi orang lain. Saat itulah terlintas di benaknya untuk menjadi guru.

Untuk cita-citanya itu ia memasukkan lamaran pekerjaan sebagai guru/dosen ke beberapa perguruan tinggi, termasuk ke Universitas Airlangga. Selang beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa lamarannya diterima di UNAIR. Resmilah Ir. Moch Amin Alamsyah sebagai dosen ke-13 pada prodi Budidaya Perairan Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR (saat itu Budidaya Perairan belum memisahkan diri menjadi Fakultas Perikanan dan Kelautan seperti sekarang – red).

Berada di lingkungan akademis membuatnya kian terpacu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia mengirimkan banyak lamaran ke lembaga penyandang beasiswa, tapi acapkali juga ditolak. Baru pada awal tahun 2000 ia melanjutkan studi Master di salah satu PTN di Malang. Tetapi impiannya untuk bisa studi S2 di Jepang masih terus terngiang. Berbekal surat rekomendasi dari seorang profesor di UNAIR, akhirnya Amin menerima beasiswa penelitian di Universitas Nagoya, Jepang. Di “Negeri Matahari Terbit” itulah ia belajar sambil penelitian di bidang biologi reproduksi. Lalu melakukan penelitian tentang berbagai bisa ular, mulai dari ular gurun sampai ular laut.

“Penelitian saya memperoleh apresiasi karena temuan satu protein yang berhasil menghambat perkembangan sel kanker dan alzheimer. Jadi ketika kembali lagi ke Malang untuk sidang tesis, saya lulus cumlaude dalam waktu 1,5 tahun,” kata Prof. Amin berkisah.

Berkat jejaring yang ia peroleh saat melakukan penelitian di Jepang, ia pun mendapat rekomendasi belajar pada jenjang Doktoral. Namun bidang yang didalami berbeda dengan studi S2-nya,  yaitu ia diharuskan mengambil studi di bidang perikanan dan kelautan. Pilihannya ia memfokuskan studinya di bidang rumput laut di Nagasaki University, dan lulus Doktor tahun 2007 dengan predikat wisudawan terbaik. Yang menunjang predikatnya itu antara lain karena ia mampu mempublikasikan jurnal penelitian melebihi dari target yang ditetapkan.

”Waktu itu saya hanya ditarget satu sampai dua jurnal internasional, tetapi Profesor bilang selagi bisa meneliti dan publikasi, mengapa tidak dilakukan? Akhirnya saya bisa mempublikasikan lima paper internasional,” tutur penulis artikel Algicidal Diterpenes from the Brown Alga Dictyota dichotoma” yang terbit tahun 2006 itu.

Suatu saat, ia bertanya kepada seorang profesornya di Jepang. Apa yang bisa menjadikan Indonesia maju seperti Jepang? Profesor itu menjawab bahwa Indonesia kekurangan pemimpin yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Karena itulah ia ingin segera kembali ke tanah air dan menjadi guru untuk mencetak generasi muda menjadi pemimpin masa depan.

Mendorong Iklim Riset

Sekarang, dosen teladan II UNAIR tahun 2009 ini telah diberi amanah sebagai Wakil Rektor III. Dengan tugas dan tanggungjawabnya, ia akan mendorong publikasi penelitian di level internasional dan mengembangkan promosi dan branding.

”Tiga hari sebelum dilantik saya dipanggil Rektor dan diberitahu bahwa saya tidak boleh menolak permintaannya. Beliau hanya meminta saya membantu tugasnya. Lalu saat upacara 17 Agustus 2015 saya dikabari oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan bahwa saya ditunjuk sebagai Wakil Rektor III,” kata Prof. Amin Alamsyah.

Di awal jabatannya, Guru Besar bidang Biologi Kelautan FPK UNAIR itu memetakan kekuatan dan kelemahan UNAIR. Guna menyongsong tantangan menuju World Class University, simpulnya, seluruh sivitas harus berkomitmen dan bersinergi untuk melangkah. Tantangan yang ada harus dikomunikasikan ke semua elemen, sehingga faktor penentu keberhasilan UNAIR adalah engagement (kesepakatan).

“Kita harus punya komitmen bahwa UNAIR adalah universitas yang qualified. Komunikasi juga penting. Untuk itu, keinginan pimpinan harus dipahami, diyakini, dan dikerjakan bersama,” katanya.

Guna memotivasi para peneliti, Prof Amin beserta unit kerja di bidangnya telah menyiapkan berbagai program. Tahun 2016 ini ia targetkan ada 307 artikel penelitian internasional yang terindeks Scopus. Karena itu kini terus memotivasi penelitian internasional melalui program riset mandat, joint research, visiting professor, dan penghargaan terhadap pemilik hak indeks. Pada program riset mandat tahun 2016, UNAIR akan memberikan anggaran Rp 250 juta kepada lima tim peneliti yang berhasil memublikasikan penelitiannya di jurnal internasional terindeks Scopus.

Dalam mendorong publikasi penelitiannya juga harus didukung dengan kapabilitas dan jejaring kerjasama yang kuat. Dalam konteks WCU, UNAIR akan memberikan dukungan kepada para penelitinya untuk terus melakukan riset dan inovasi produk penelitian, baik melalui program kerjasama riset maupun produk akademik dan patent. Pusat-pusat riset akan didorong melalui jaringan kerjasama, baik dalam maupun luar negeri, sedang penguatannya didukung dengan diseminasi informasi yang baik mengenai penemuan-penemuan oleh key scientist.

“Hal itu akan meningkatkan jaringan kerjasama. Orang luar akan tahu bahwa UNAIR ada banyak penemuan baru dan bisa diajak bekerjasama,” tambah penulis jurnal berjudul “Eksplorasi Rafinosa Biji Kapas sebagai Pengganti Formalin dalam Pengawetan Ikan” tahun 2013 itu.

Agar jejaring kerjasama lebih kuat maka setiap bidang keilmuan diwajibkan membuat konsorsium keilmuan dan membawa “bendera” UNAIR, baik di tingkat nasional dan internasional. Selain itu ia akan mendorong dosen-dosen muda untuk melanjutkan studi Doktoral di luar negeri. “Teman-teman mahasiswa juga harus berupaya bahwa dalam satu masa studinya harus memiliki kesempatan untuk bisa ke luar negeri, dalam program apa saja, apakah short course, AUN, workshop, atau exchange,” pesan Prof. Amin Alamsyah. (*)

Penulis : Defrina Sukma Satiti
Editor   : Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu