Waspadai Leptospirosis di Kala Banjir

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto: izismile.com

UNAIR NEWS – Salah satu penyakit yang patut diwaspadai saat musim hujan dan banjir adalah leptospirosis. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. ini bisa mengakibatkan kematian. Menurut data yang dilansir pada Februari 2015 oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tercatat 435 kasus dengan 62 kematian akibat penyakit Leptospirosis.

Penyakit ini memang patut diwaspadai saat banjir tiba. Pasalnya, pada saat banjir, luapan air yang masuk ke pemukiman warga mengakibatkan tingkat penularan penyakit menjadi lebih tinggi. Namun, menurut M. Atoillah, dr., M.Kes, penyakit Leptospirosis perlu diwaspadai tidak hanya saat banjir. Warga perlu mewaspadai tempat-tempat genangan air, seperti selokan, parit, dan gorong-gorong. Bisa saja, genangan air sudah terkontaminasi dengan bakteri Leptospira sp. yang cukup mudah ditularkan melalui urin tikus.

“Ketika bakteri itu sudah masuk dalam tubuh inang, dia akan mencari tempat favoritnya. Salah satu tempat favorit Leptospira adalah saluran kencing pada tikus,” tutur dr. Atoillah, pengajar pada Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.

Penyakit ini menular pada manusia melalui kulit manusia yang terluka, dan selaput lendir seperti mulut dan hidung. Masa inkubasi bakteri dalam tubuh manusia paling lama adalah 14 hari. Ketika bakteri sudah masuk ke tubuh manusia, Leptospira sp. akan menyerang hati dan pembuluh darah. Tubuh manusia yang terjangkiti bakteri ini akan mengalami gejala demam tinggi, nyeri otot, mual, mimisan, dan kuning. Kematian yang disebabkan oleh penyakit ini berkisar antara 3 – 16 persen.

“Rasa nyeri otot inilah yang membedakan penyakit Leptospirosis dengan Hepatitis. Karena penderita sama-sama terlihat kuning. Parah atau tidaknya penyakit ini bergantung pada lama tidaknya penderita mencari pertolongan, dan daya tahan tubuh. Ditangani lebih cepat lebih baik,” ujar dr. Atoillah.

Golongan manusia dari segi usia yang rentan terkena penyakit ini adalah anak-anak kecil dan orang lanjut usia. Sebab, daya tahan tubuh anak kecil belum kebal, sedangkan pada daya tahan tubuh lansia sudah mulai menurun. Dari segi pekerjaan, para petugas kebersihan adalah golongan yang paling rentan terinfeksi bakteri Lepstospira sp.

Pengendalian penyakit berbasis pencegahan di masyarakat merupakan salah satu cara untuk menjaga agar penyakit Leptospirosis tidak meluas. Masyarakat perlu menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk memberantas sarang tikus di rumah. Selain itu, orang tua perlu berperan dalam melakukan pengawasan terhadap si kecil agar tak bermain di genangan air. (*)

Penulis: Defrina Sukma S
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu