UNAIR Gandeng Peneliti Asing untuk Bicara Sampah dan Tata Kelola Kota

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Freek dan Pauline merupakan dua peneliti asal Belanda saat sedang memberikan materi (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Hubungan personal yang berjalan baik selama bertahun-tahun menjadi faktor penting bagi kerjasama antara Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga dengan Vrije Universiteit Amsterdam dan Delft University of Technology. Buktinya, pada Jumat (4/3), kedua belah pihak menggelar seminar bertajuk “International Seminar on Urban History”. Seminar yang digelar di Ruang Siti Parwati FIB UNAIR ini dihadiri oleh Dr. Freek Colombijn dari Vrije Universiteit Amsterdam, dan Dr. Pauline K.M van Roosmalen dari Delft University of Technology.

Freek dan Pauline merupakan dua peneliti asal Belanda yang telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun di Indonesia. Freek telah menaruh perhatian risetnya terhadap pengelolaan sampah, sedangkan Pauline mengenai tata perkembangan kota. Penelitian mereka sejalan dengan kajian studi Departemen Ilmu Sejarah UNAIR yang berfokus pada sejarah perkotaan.

“Kerjasama ini dimulai dengan hubungan personal. Dengan Freek, sejak 2005 ia sering berkunjung ke UNAIR. Sekarang sudah ada Memorandum of Understanding (MoU) dengan FIB. Kerjasama ini dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kedatangan mereka kali ini dalam rangka kunjungan ke Indonesia dan memberikan ceramah ilmiah di Departemen Ilmu Sejarah, termasuk melanjutkan riset tentang pengelolaan sampah di Surabaya,” tutur Gayung Kasuma, S.S., M.Hum., selaku Ketua Departemen Ilmu Sejarah UNAIR.

Dalam seminarnya, Freek berbicara tentang berbagai penelitiannya di Indonesia, termasuk penelitiannya tentang sampah di Surabaya yang ia lakukan sejak enam tahun terakhir.

“Dimana-mana lingkungan sangat penting untuk manusia. Banyak masalah lingkungan yang dilalaikan. Saya ingin mengetahui kenapa manusia tidak bisa berinteraksi dengan ekosistem secara baik. Kita tahu bahwa banyak masalah lingkungan hidup, tapi kita tidak bergerak. Menurut saya itu sangat mengkhawatirkan. Dan saya fokus pada sampah dan pengelolaannya,” tutur Freek.

Sebelumnya, Freek juga melakukan berbagai penelitian di Indonesia. Seperti kekerasan di Indonesia, kehidupan sosial masyarakat Indonesia setelah merdeka, modernisasi kota-kota di Indonesia. Penelitian studi doktoralnya membahas tentang perkembangan Kota Padang, Sumatera Barat. Mengenai penelitian tentang sampah ini, Freek berencana untuk menerbitkannya dalam sebuah buku.

“Penelitian ini belum selesai, sedang dilaksanakan. Mungkin penelitian ini tidak pernah selesai. Saya sudah mengumpulkan bahan di lapangan selama enam tahun. Sementara itu saya juga menulis tentang topik lain. Mudah-mudahan penelitian ini akan menjadi artikel dalam bentuk buku,” papar Freek.

MoU antara Departemen Ilmu Sejarah dengan Freek telah dilakukan sejak Desember 2015 silam yang berlangsung di Vrije Universiteit Amsterdam, dan akan terus berlangsung hingga lima tahun ke depan.

Dalam beberapa bulan ke depan, Freek juga akan memberikan pelatihan tentang publikasi ilmiah internasional. Pelatihan ini untuk mendorong para dosen melakukan penelitian dan publikasi ilmiah internasional, sesuai dengan target FIB UNAIR bahwa minimal terdapat sepuluh judul penelitian yang dimuat dalam jurnal internasional pada 2016 ini.

“Dengan adanya MoU tingkat fakultas, akan membantu paling tidak saling berbagi tentang proses dan indentifikasi menuju jurnal ilmiah internasional. Sehingga bisa lebih mudah dimuat ke terindeks Scopus,” papar Gayung.

Seminar ini merupakan seri ke dua dari rangkaian seminar yang diadakan oleh Departemen Ilmu Sejarah UNAIR. Pada Februari lalu, Departemen Ilmu Sejarah menghadirkan pembicara dari Australia, Prof Howard Dick, penulis “Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000” dan Robbie Petters penulis “Surabaya, 1945-2010: Neighbourhood, State and Economy in Indonesia’s City of Struggle”.

Ke depan, kerjasama internasional akan terus dilakukan sesuai dengan target universitas menuju World Class University. Gayung mengatakan bahwa Departemen Ilmu Sejarah sangat terbuka terhadap keilmuan lain yang ingin sinergis dan memiliki disiplin ilmu yang sama. Sebab menurutnya, Ilmu Sejarah belajar tentang masyarakat, yang di dalamnya mengkaji problematika sosial, budaya, arsitektur, ekonomi, dan bidang-bidang lainnya.(*)

Penulis: Binti Quryatul Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu