Perencanaan Kota Belum Optimal, Banjir Masih Jadi Masalah Besar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto: Ilustrasi kanalsatu.com

UNAIR NEWS – Curah dan intensitas hujan yang tinggi pada awal tahun kerap menimbulkan banjir di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Surabaya. Beberapa ruas jalan utama, perumahan, dan ruang publik lainnya ikut terendam air. Pemerintah, swasta, dan masyarakat perlu mencari solusi terbaik untuk mengatasi banjir tahunan.

Nita Citrasari, S.Si., M.T., pakar lingkungan dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga, mengatakan bahwa banjir disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, menyempitnya drainase yang menyebabkan air meluap ke jalan dan pemukiman. Kedua, kurangnya daerah resapan. Ketiga, perilaku masyarakat yang suka membuang sampah di daerah aliran air.

“Selain karena kesalahan tata kota dan pembangunan yang tidak memperhitungkan daerah aliran air (DAS), perilaku masyarakat juga ikut menyebabkan banjir. Kita masih sering melihat ada warga yang membuang sampah di sungai. Padahal sungai merupakan daerah aliran air,” ungkap dosen Ilmu Teknologi Lingkungan FST UNAIR.

Nita Citrasari, S.Si., M.T., pakar lingkungan dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga (Foto: Istimewa)
Nita Citrasari, S.Si., M.T., pakar lingkungan dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga (Foto: Istimewa)

Perencanaan wilayah kota menjadi sorotan ketika banjir datang. Nita menilai perencanaan DAS dan resapan air masih belum terintegrasi dengan baik. Apabila kedua hal itu menjadi salah satu pokok pertimbangan dalam perencanaan kota, kasus banjir akan bisa dikurangi.

Dalam jangka pendek, salah satu cara untuk mengurangi banjir adalah membebaskan daerah aliran air (DAS) dari tumpukan sampah dan sumbatan lainnya. “Pada akhirnya, kita harus memberi jalan bagi air untuk lewat, sehingga air tidak lewat dan menggenang di jalanan. Seperti yang sudah diterapkan dengan sangat baik di Belanda,” tutur Nita.

Staf pengajar pada Departemen Biologi FST UNAIR menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi seharusnya bisa diubah menjadi keuntungan. Air hujan yang berlebih seharusnya bisa diserap dan ditampung untuk dijadikan sebagai simpanan air tanah.

Ketika musim kemarau terjadi, simpanan air tanah dari air hujan ini bisa dimanfaatkan agar masyarakat tak kekurangan air bersih. Namun, keadaan yang terjadi saat ini, air hujan yang berlebih cenderung terbuang, sehingga di beberapa wilayah, warga masih mengalami kekeringan pada saat musim kemarau.

“Sudah banyak teknologi untuk menanggulangi banjir, termasuk material bangunan yang ramah lingkungan, namun belum diaplikasikan. Semua dikembalikan lagi pada komitmen pemerintah dan dukungan masyarakat,” imbuh staf pengajar kelahiran tahun 1982. (*)

Penulis: Okky Putri Rahayu
Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu