Kuliah Tamu dari Hiroshima University, Awali Semester Baru di FPK

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana Kuliah Tamu di FPK UNAIR (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Memasuki pekan pertama di semester genap ini, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR awali perkuliahan dengan kuliah tamu. Mengangkat materi “Phytoplankton and Microalgae Comunities In Various Ocean System”, kuliah tamu yang bertempat di ruang B-303 tersebut, disampaikan oleh Kazuhiko Koike, PhD., dari Hiroshima University Jepang. Kuliah tersebut membahas tentang fungsi phytoplankton dalam ekosistem, salah satunya fungsi phytoplankton sebagai produsen utama dalam rantai makanan karena memiliki kemampuan fotosintesis.

“Jika phytoplankton itu tidak ada maka akan merusak keseimbangan ekosistem di perairan,” jelas Kazuhiko Koike.

Kuliah tamu yang digelar pada Selasa (1/3), juga dijelaskan kondisi phytoplankton yang masih banyak dijumpai dalam perairan laut. Meski menjadi sumber makanan utama dalam satu tahunnya, phytoplankton mampu mencapai jumlah 100.000 kilo ton, hal ini sangat berbeda jauh dengan jumlah ikan konsumsi yang hanya mampu mencapai 10 hingga 1.000 kilo ton pertahunnya. Hal itu menyebabkan phytoplankton yang melimpah ini perlu diolah menjadi produk bermanfaat sehingga mampu menambah jumlah koleksi hasil perikanan yang sekarang masih sedikit.

“Siapa tahu jumlah ikan di laut? Pasti tidak ada yang tahu, tapi berapa jumlah produk perikanan? Kalian langsung bisa menghitungnya,” imbuhnya.

Fakta di lapangan untuk saat ini, menunjukkan bahwa produk olahan dari jenis-jenis plankton dan mikroalga masih sekedar bahan-bahan kosmetik, namun juga sudah ada plankton yang dijadikan sebagai bahan bakar. Selain bermanfaat ternyata plankton juga bisa merugikan jika blooming plankton sehingga terjadi red tide. Red tide sendiri terjadi dimana jumlah plankton bertambah dengan pesat dalam suatu perairan.

“Perlu diketahui sebagian plankton juga ada yang bersifat racun yang jika dikonsumsi bisa mengakibatkan paralythic, diare dan gangguan syaraf, untuk itu perlu ilmu perikanan dalam mengolahnya,” pungkasnya. (*)

Penulis: Lutfi Marzuki
Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu