SUASANA edukasi PSN dan pencegahan timbulnya DBD untuk masyarakat di Kelurahan Boyolangu, Banyuwangi oleh Prodi Kesehatan Masyarakat FKM UNAIR Banyuwangi. (Foto: A. Zakky Multazam)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dimotori oleh salah seorang dosennya, sivitas program studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) PDD UNAIR Banyuwangi memberikan edukasi tentang pencegahan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) kepada masyarakat di Kelurahan Boyolangu, Kab. Banyuwangi, Rabu (2/3) lalu. Acara ini disambut antusias oleh ibu-ibu anggota masyarakat setempat.

Seperti diketahui, demam berdarah adalah suatu momok kesehatan yang akhir-akhir ini kembali marak. Dalam semester awal 2016 ini saja telah terjadi beberapa kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD) di beberapa daerah. Karena itu Pemkab Banyuwangi pun mengantisipasi pencegahannya.

Berkaitan dengan itu dan keinginan mengabdi untuk masyarakat, prodi Kesehatan Masyarakat PDD UNAIR Banyuwangi pengajuan proposal program PSN ke Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi, yakni ikut berupaya menginisiasi masyarakat guna memutus mata rantai penularan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti ini. Kemudian mendapat rekomendasi dari Dinkes setempat bahwa untuk melaksanakan kegiatan ini agar bekerjasama dengan Puskesmas Mojopanggung, sehingga dilaksanakanlah edukasi di Kelurahan Boyolangu tadi. Sebelum terjun di Kel. Boyolangu semua peserta mahasiswa dilakukan pelatihan dan pembekalan terlebih dahulu pada 6 Februari lalu.

”Rencananya edukasi ini akan kami lanjutkan pada Minggu 6 Maret besok di beberapa titik yang tersebar tersebar di Kelurahan Boyolangu. Materinya selain PSN untuk memutus daur hidup dari nyamuk. Kegiatan nanti akan dilaksanakan oleh mahasiwa dengan didampingi petugas dari Puskesmas,” ujar Aziz, koordinator program ini.

“Kalau hanya fogging itu hanya akan mengurangi nyamuk dewasa saja. Maka dari itu kegiatan PSN ini harus dilakukan menyeluruh pada kontainer-kontainer yang berpotensi tempat berkembang biaknya jentik,” kata Dian Santo Prayogo, SKM., M.Kes., dosen pembimbing itu.

Dijelaskan, tren DBD itu terjadi pada awal dan akhir musim penghujan, sehingga sangat tepat bila kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Maret, sehingga masyarakat bisa mempersiapkan diri untuk mencegah timbulnya penyakit ini yang diprediksi bisa menjadi KLB pada April mendatang.

“Mudah-mudahan tidak sampai terjadi, dan ingat mencegah itu lebih baik dari pada mengobati,” tambahnya. (*)

Penulis: Ahmad Zakky Multazam
Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone