Soal Panci Berlafaz “Alhamdu Allah”, Polisi Perlu Bentuk Tim Khusus Kasus Penodaan Agama

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto: malangpagi.com

UNAIR NEWS – Belakangan, kasus yang diseret ke ranah penodaan atau penistaan agama kembali terjadi. Tepatnya, soal panci yang berstiker “Alhamdu Allah”.  Beberapa waktu lalu, hal serupa pernah terjadi. Yakni, saat ditemukan sandal yang memiliki tekstur lafaz sakral bagi umat Islam.  Bahkan, pada momen tahun baru lalu, sempat diperjualbelikan terompet dengan bahan dasar kertas sampul kitab suci umat mayoritas tersebut.

Terkait maraknya jumlah kasus tersebut, pakar hukum pidana UNAIR  Sapta Aprilianto, S.H.,M.H.LL.M berpandangan, polisi perlu membentuk tim khusus. “Mengingat meningkatnya peristiwa perkara yang berkaitan dengan penodaan dan penistaan agama, pihak aparat kepolisian perlu membentuk tim atau divisi khusus untuk menangani perbuatan pidana penodaan dan penistaan terhadap agama,” ujar pria yang biasa disapa Antok tersebut.

Dia melanjutkan, selama ini penyidik kepolisian mungkin belum menganggap perbuatan ini sebagai prioritas. Berbeda dengan tindak pidana khusus seperti panyalahgunaan narkoba ataupun tindak pidana korupsi. Sehingga, dalam proses penanganan masih harus menunggu laporan maupun aduan masyarakat.

Itulah mengapa terkesan penegakan hukum kurang. Padahal, penegakan hukum sudah sesuai, namun dalam hal ini penyidik kepolisian tidak dapat bergerak jika tidak ada laporan ataupun pengaduan.

Perlu diketahui bahwa dasar dari tindakan Polisi sebagai aparat penegak hukum adalah laporan dan pengaduan masyarakat. Walaupun sifat perbuatan penodaan ataupun penistaan terhadap agama ini bukanlah aduan, namun tetap saja pihak penyidik baru dapat bertindak manakala ada laporan.

Oleh sebab itu, perlu peran aktif dari anggota masyarakat. Perlu kepekaan dari masyarakat terkait dengan dugaan tindakan yang sifatnya penodaan ataupun penistaan terhadap agama.

Nah, tim atau divisi khusus nanti akan bertugas untuk mengawasi sekaligus menerima aduan langsung dari masyarakat. Bahkan, dapat pula melakukan langkah-langkah inisiasi “jemput bola” untuk menelaah fenomena praktek penodaan agama di masyarakat. Dengan demikian, kerja polisi akan lebih fokus dan penanganan bisa lebih optimal.

Dia menambahkan, pelaku perbuatan penodaan ataupun penistaan agama dapat dihukum jika perbuatan tersebut merugikan atau meresahkan kepentingan umum.   Maka itu, walaupun pelaku telah meminta maaf, namun masyarakat umum masih merasa resah dan dirugikan, secara kepatutan dan secara yuridis, Polisi selaku penyidik tidak dapat menghentikan perkara ini. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu