Foto Ilustrasi
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Sebagai kelompok yang dianggap bagian dari pihak yang resisten, remaja diidentikkan dengan aktivitas-aktivitas yang digolongkan oleh Webster (2010) dalam diskursi pergaulan bebas. Dia menyebutkan, pergaulan bebas bisa didefinisikan sebagai interaksi sosial dan perilaku di luar norma masyarakat atau ‘bebas dari aturan’.

Pergaulan bebas adalah perilaku negatif sebagai ekspresi penolakan remaja. Perilaku yang termasuk pergaulan bebas adalah seks pranikah, konsumsi alkohol dan narkoba, clubbing, konsumsi pornografi dan cybersex, merokok, dan perkelahian antar geng.”

Pergaulan bebas adalah istilah yang marak digunakan selama masa pemerintahan Presiden Soeharto di Orde Baru (1966-1998). Diskursi ini dipercaya sebagai akibat dari masuknya budaya asing dalam pengaruh globalisasi yang tidak terfilter di Indonesia. Terdiri dari kata ‘pergaulan’ dan ‘bebas’, stigma negatif terhadap diskursi ini muncul pada kata ‘bebas’ yang dapat dimaknai sebagai hal-hal yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab.

Bagaimanapun, seperti diungkapkan Webster, perbedaan definisi antara pergaulan normatif (tidak bebas) dan pergaulan non-normatif (bebas) similarly subject to change (tergantung pada perubahan). Dalam hal ini, contoh perubahan yang dimaksud misalnya perubahan interaksi sosial masyarakat pasca Orde Baru dan berkembangnya teknologi, atau adanya perubahan kebijakan pemerintahan, baik di Indonesia maupun secara global.

Secara terpisah, penggunaan frase yang sama dapat dimaknai berbeda pula oleh kelompok tertentu, seperti halnya penggunaan frase free sex yang dimaknai sebagai seks tanpa pengaman (kondom) oleh komunitas gay, bukan sebagai seks pranikah atau berganti-ganti pasangan seperti yang dimaknai oleh kelompok dominan konservatif.

Saya pernah melakukan penelitian tentang film-film remaja. Di sana, saya memiliki definisi kongkret terkait frase pergaulan bebas. Yakni, mengacu pada aktivitas-aktivitas yang dikutip sebelumnya berdasarkan pengelompokan Webster. Frase ini digunakan untuk memudahkan identifikasi. Selain itu, frase ini telah umum digunakan sebelumnya. Meskipun identik dengan ketetapan-ketetapan dan isu moral panic pada masa Orde Baru, faktanya frase ini masih digunakan dan telah menjadi wawasan umum di masyarakat.

Penggunaan frase ini dianggap masih relevan mengingat masih adanya beberapa film yang menjadikan frase ini sebagai judul, seperti Akibat Pergaulan Bebas (2010) dan Akibat Pergaulan Bebas 2 (2011). Dalam film-film karya Nayato Fio Nuala, isu pergaulan bebas muncul dan identik dengan keseharian tokoh-tokoh remajanya. Perempuan dalam film Nayato mendapatkan porsi sebagai fokus utama dalam cerita-ceritanya. Hal ini dapat dilihat dari plot cerita dan poster-poster filmnya.

Menariknya, Webster mengungkapkan pernyataan yang relevan dengan hal ini. Pergaulan bebas banyak dikaitkan oleh Webster dengan perempuan muda, terlebih jika menghubungkannya dengan norma di Indonesia yang cenderung menempatkan perempuan di posisi yang tabu dan penuh pantangan. Lebih jauh lagi, Webster (2010:342) juga mengungkapkan bahwa dalam film remaja, ekspektasi heteronormatif tentang femininitas, keperawanan dan pernikahan disampaikan dengan dilekatkan pada citra baik perempuan dengan menyampaikan konsekuensi berbahaya (disasterous consequences) yang mungkin dihadapi (jika melanggar ketiga konsep tersebut). (*)

Penulis: Dyestari Dyanutami

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone