Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Gelar Rakernas Pertama di UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Pembicara dalam Rakernas Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) di FIB UNAIR

UNAIR NEWS – Pasang surut keaktifan sebuah organisasi, dimanapun dan kapanpun, adalah hal yang wajar terjadi. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya pasang surut tersebut. Diperlukan upaya terus menerus untuk menjaga keberlangsungan roda organisasi untuk mencapai visi yang telah disepakati.

Sabtu, (23/1), bertempat di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang pertama. Rakernas I yang bekerja sama dengan Unit Kajian Kebudayaan Jawa Timur (UK2JT) ini merupakan bagian dari langkah menggerakkan roda organisasi HISKI. Rakernas ini secara resmi dibuka oleh rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Nasih, MT., Ak., dan dihadiri oleh pengurus HISKI pusat, perwakilan pengurus HISKI komisariat, dan perwakilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB).

Prof. Dr. Dadang Sunendar selaku ketua umum BPPB dalam materinya menyampaikan bahwa BPPB berupaya melakukan pengembangan, pembinaan, dan perlindungan terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Ia berpendapat bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional wajib dibina, sedangkan bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pendamping utama, barulah bahasa asing dikuasai sebagai pendamping kedua. Selain itu, Dadang berharap karya sastra Indonesia dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran di instansi-instansi pendidikan dan diadaptasi dalam bentuk lain, misalnya lagu, komik, sinetron, dan sebagainya.

Sedangkan Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum., selaku ketua umum HISKI, menyampaikan bahwa upaya HISKI bukan hanya menghidupkan kesusastraan Indonesia, melainkan kesusastraaan yang pernah hidup dan dikenal di Indonesia, misalnya sastra Belanda, Jepang, China, Prancis, Rusia, Jerman, dan lainnya bila ada.

Kedepan, dalam perjuangan menghidupkan dan melestarikan kesusastraan di Indonesia, HISKI bekerja sama dengan BPPB akan melakukan preservasi terhadap karya-karya sastra yang hilang. Karya-karya sastra yang dulu terpinggirkan dan tidak diperhatikan orang inilah akan menjadi perhatian HISKI. Demikian pula dengan karya-karya sastra yang pernah diberedel di era Orde Baru yang dianggap sebagai sastra golongan kiri.

“Buku-buku seperti itu (karya sastra golongan ‘kiri’, -red), kan, sekadar persepsi. Ada golongan kiri dan golongan kanan. HISKI sifatnya memahami sastra, menghayati sastra secara ilmiah. Bukan untuk mendorong orang ke arah berpolitik,” tutur Suwardi.

Karya Sastra untuk Pelajar

Tidak hanya menghidupkan kembali karya-karya sastra kanon, HISKI berupaya memasukkan pembelajaran sastra ke dalam kurikulum sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Bentuk kurikulum tersebut ialah membaca, mengapresiasi, mengkaji, mengadakan perlombaan-perlombaan, dan menulis ringkasan, agar anak-anak tergelitik untuk memahami nilai-nilai yang ada di dalam karya sastra. Sebab selama ini, menurut Suwardi, mata pelajaran yang diberikan oleh guru-guru di sekolah Indonesia hanya dikenal sebagai pelajaran Bahasa Indonesia, sehingga guru-guru lebih condong mengajarkan kebahasaan, bukan kesusastraannya.

“Di sekolah masih sering terjadi guru-guru yang belum paham tentang pembelajaran sastra, yang harus menggeluti karya-karya sastra, mereka tidak begitu paham dan tidak begitu tertarik, yang dinomorsatukan malah bahasanya. Yang menjadi salah persepsi lagi, guru-guru hanya mengajarkan dengan model pembelajaran hafalan. Guru-guru hanya memberikan judul-judul karya dan pengarangnya. Jadi kami sangat berharap karya sastra nanti bisa dijadikan kurikulum pembelajaran, dibantu oleh BPPB”, lanjut Suwardi.

Adanya kerja sama antara BPPB dan HISKI diharapkan dapat mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa serta sastra di Indonesia. Untuk mewujudkannya, BPPB dan HISKI berinisiatif mengajak masyarakat agar lebih mengenal dunia literasi. Program-program literasi masyarakat ini masuk dalam perumusan Rakernas I HISKI.

Karya Sastra untuk Mahasiswa non-Sastra

HISKI tidak hanya menyoroti pemeliharaan bahasa dan sastra, namun juga melaksanakan riset. Seperti riset yang pernah dilakukan Dr. Rita Inderawati, M. Pd, pengurus HISKI komisariat di Palembang, pada mahasiswa di fakultas lain terkait ketertarikan mereka terhadap pembelajaran literasi.

“Saya meneliti lewat sebuah kompetensi HISKI, bahwa mahasiswa non-bahasa, seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, dan sebagainya, ingin sastra juga diajarkan. Pertanyaannya mungkin, kenapa mereka tertarik? Sebut saja karena ada treatment yang saya berikan tidak secara langsung, tapi lewat angket. Dan mereka mencoba ikut mengapresiasi karya sastra yang saya berikan dalam bahasa Indonesia. Akhirnya, hampir 80% mahasiswa non-bahasa Inggris atau bahasa Indonesia ingin sastra diajarkan di fakultas mereka,” tutur Rita.

Sebelum Rakernas I diadakan, HISKI hanya mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) selama empat tahun sekali. Munas ini dalam rangka pergantian pengurus dan mengubah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART). Rencananya, Rakernas akan diadakan setiap tahun bersamaan dengan Koferensi Internasional Kesusastraan (KIK). Tahun depan, Rakernas II akan diadakan di Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis: Lovita Martafabella Cendana
Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu