RS UNAIR Siap Terima Pasien HIV/AIDS pada Maret 2016

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DIREKTUR RS UNAIR Prof. Nasronuddin ketika menjelaskan hasil riset “Prevent Mother to Child Transmission” (PMTCT) HIV/AIDS di beberapa Puskesmas di Surabaya. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – RS UNAIR siap terima pasien HIV/AIDS pada Maret 2016. Untuk itu, RS UNAIR akan membentuk pusat pengobatan HIV/AIDS. Hal itu diungkapkan Direktur RS UNAIR, Prof. Dr. Nasronuddin. Dia menargetkan RS UNAIR sudah memiliki ijin untuk melakukan pengobatan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Minggu depan, kami siapkan struktur pusat yang akan melakukan pelayanan ARV. Kami juga segera melaksanakan training tenaga medis dalam melayani ODHA. Dalam dua bulan, saya menargetkan RS ini akan siap menerima pasien HIV/AIDS, dan mampu memberikan pengobatan ARV. Juga siap melayani rawat inap di RS Khusus Infeksi UNAIR,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAIR itu.

Sementara itu guna menekan angka penularan HIV/AIDS dari ibu ke anaknya, Rumah Sakit Universitas Airlangga bekerjasama dengan United Nations Children’s Fund (UNICEF) melakukan riset tentang “Prevent Mother to Child Transmission” (PMTCT) HIV/AIDS, yang dilakukan sejak tahun lalu. Hasil riset tersebut akhirnya dipresentasikan di depan para Kepala Puskesmas se-Kota Surabaya dan representasi UNICEF, yang dilaksanakan di lantai VIII RS UNAIR, Kamis (21/1).

Presentasi hasil riset itu disampaikan sendiri oleh Direktur RS UNAIR Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp.PD-KPTI, FINASIM, didampingi Manajer Keperawatan RS UNAIR Purwaningsih, S.Kp., M.Kes. Riset program PMTCT itu dilakukan di sejumlah Puskesmas di Surabaya, seperti Puskesmas Dupak, Jagir, Perak Timur, Putat, Sememi, dan di RS Dr. Soetomo.

Salah satu program PMTCT ini adalah mewajibkan ibu hamil untuk melakukan deteksi dini HIV/AIDS, sasarannya agar virus tidak menular kepada anak. Bagi ibu hamil yang mengidap HIV ia akan segera mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) dan mengurangi risiko penularan kepada anaknya.

Bagaimana pelaksanaan program PMTCT di Surabaya? Purwaningsih yang juga peneliti PMTCT menjelaskan, bahwa sumber daya manusia yang dimiliki lima Puskesmas di Surabaya itu sudah mumpuni, dimana mereka sudah mendapatkan pelatihan sejak lima tahun yang lalu. Sehingga kader-kader Puskesmas yang baru juga perlu diberikan pelatihan. Apalagi, tambah Purwaningsih, SDM yang dimiliki Puskesmas punya motivasi dan komitmen untuk mengatasi penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak.

Dari segi pelayanan laboratorium, disampaikan bahwa terkadang pegawai Puskesmas melaksanakan jemput bola kepada ibu hamil. Biasanya, pegawai Puskesmas bekerjasama dengan bidan swasta untuk melakukan deteksi dini HIV/AIDS terhadap ibu hamil.

“Namun ada juga ibu hamil yang menolak obat ARV karena stigma di masyarakat. Sebagian besar dari mereka juga tidak termonitor setelah mendapat rujukan balik dari rumah sakit ke Puskesmas. Ada juga ibu hamil yang positif HIV namun tidak berani mengajak suaminya melakukan deteksi dini HIV/AIDS,” tutur mantan Dekan Fakultas Keperawatan UNAIR ini.

Suami dari ibu hamil dengan HIV/AIDS juga merupakan bagian penting dari penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak. Prof. Nasron yang juga peneliti penyakit tropik mengatakan kurangnya pengetahuan dan pemahaman dari suami, menyebabkan suami melarang istri untuk dideteksi dini HIV/AIDS. (*)

Penulis : Okky Putri
Editor: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu