Ahli Gizi FKM UNAIR Ini Ciptakan Formula Biskuit dari Ikan Lele

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Annis Catur Adi, Ir., M.Si, dengan produk ciptaannya Clarisa (Foto: Dokumentasi Pribadi)

UNAIR NEWS – Siapa tak suka biskuit? Apalagi biskuit tersebut mengandung nilai gizi yang dibutuhkan sesuai dengan usia dan keadaan tubuh konsumen. Ketika Anda memakannya, Anda tak perlu cemas dengan kandungan gizinya. Karena formula biskuit tersebut dibuat langsung oleh Dr. Annis Catur Adi, Ir., M.Si, ahli gizi FKM UNAIR.

Biskuit dengan formula gizi yang pas itu bernama Clarias. Nama Clarias sebenarnya berasal dari nama ilmiah ikan lele, yaitu Clarias sp. Bahan utama yang digunakan untuk membuat Clarias adalah tepung ikan yang terdiri dari kepala ikan, dan daging ikan. Dalam pengolahannya, tepung ikan lele itu dikombinasi dengan probiotik Entero cocous IS 2735 yang di-mikroenkapsulasi (proses fisik bahan aktif seperti partikel yang dikemas untuk melindungi suatu zat agar tetap tersimpan dalam keadaan baik pada saat digunakan, red).

Annis membuat formula berbeda yang diperuntukkan bagi balita, remaja, dan lanjut usia (lansia). Bahan utama yang digunakan untuk membuat Clarias bagi balita adalah tepung daging ikan lele yang mengandung banyak protein dan tiga nutrisi asam amino yang unik, yaitu Threonine, Methionine, dan Lysine.

“Pada serelia yang sering dikonsumsi oleh anak-anak balita, kandungan asam aminonya hanya sedikit. Padahal, rata-rata yang menyebabkan tubuh tak berkembang optimal adalah karena defisit asam amino. Pada lele, kandungan asam aminonya tinggi. Ini sudah diuji selama sepuluh hari kepada balita dengan berat badan rendah. Hasilnya, berat badan balita itu meningkat satu kilogram,” ujar Kepala Departemen Gizi FKM UNAIR itu.

Lain balita, lain pula untuk remaja dan lansia. Clarias bagi remaja, mengandung lebih banyak kalsium daripada protein. Kandungan kalsium bagi remaja bermanfaat untuk memaksimalkan pertumbuhan dan pengerasan tulang. Begitu pula Clarias bagi lansia. Sebab, pada usia lanjut, kejadian osteoporosis tengah berlangsung, sehingga tubuh memerlukan kalsium yang tinggi.

“Saat remaja yang optimal adalah pembentukan tulang, sedangkan pada saat lansia kalsium bermanfaat untuk mengganti tulang-tulang yang keropos. Ini perlu asupan makanan. Kita beri Clarias yang mengandung lebih banyak tepung dari kepala ikan lele,” ungkap Annis.

Salah satu produk biskuit olahan Dr. Annis Catur Adi, Ir., M.Si. ( Foto: Dokumentasi Pribadi)
Salah satu produk biskuit olahan Dr. Annis Catur Adi, Ir., M.Si. ( Foto: Dokumentasi Pribadi)

Inovasi dan prestasi produk

Pria kelahiran Tulungagung itu menggunakan prinsip zero waste dalam mengolah ikan lele. Seluruh bagian tubuh ikan lele, seperti kepala dan daging diolah menjadi tepung. Pengubahan wujud menjadi tepung juga dilakukannya untuk menarik perhatian anak-anak yang tak doyan makan ikan. Bahan lainnya seperti kulit, oleh Annis dijadikannya keripik.

“Mengapa tepung? Pertama, karena bahan makanan hewani itu mudah rusak. Makanya kami berupaya untuk mengubah lele ini menjadi makanan yang tahan lama. Kedua, lele itu binatang yang kurang cakep ya. Apalagi kalau sasarannya untuk anak-anak, jadi kurang pas. Kalau udah jadi tepung kan mereka nggak tahu itu lele. Kalau kita mengubah lele hanya menjadi tepung, maka ada bahan sisa. Padahal prinsip kami adalah zero waste. Kami juga ambil kulitnya, dan dibuatlah keripik,” tutur dosen berprestasi kedua UNAIR tahun 2014 itu.

Dari ikan berkumis pula, Annis bekerjasama dengan rekan-rekannya di bidang boga, berhasil mengolah ikan lele ke berbagai produk seperti biskuit, kerupuk, nugget, bakso, dan lain-lain. Sampai saat ini, telah lebih dari 20 bentuk makanan dari olahan ikan berkumis itu.

“Manusia kan punya selera jadi kami bikin variasi. Maka kami kembangkan tepung ikan lele. Kami bekerjasama dengan pandai boga. Sudah lebih dari 20 jenis yang sudah kita subtitusi dengan tepung ikan lele. Ini produk tradisional tapi bergizi proteinnya tinggi,” ucap Annis yang juga telah memiliki minipabrik di Bogor itu.

Seluruh inovasi lele yang ditawarkan Annis bermula dari penelitian disertasinya pada tahun 2009 saat menjalani studi di IPB. Dari penelitian, Annis membuat produk jadi berbentuk tepung dan biskuit, yang membuatnya meraih penghargaan sebagai karya inovatif terbaik dari Business Inovation Center dan Kemenristek tahun 2011.

Produknya ini sudah dipasarkan di beberapa stan makanan dan rumah sakit di daerah Jakarta dan Bogor. Sedangkan, di Jawa Timur, Annis berencana membuatnya bersama dengan para warga di eks lokalisasi Dolly dengan bantuan Pemkot Surabaya. Namun, selama ini, Clarias juga telah digunakan sebagai food emergency di beberapa daerah bencana di Indonesia, seperti gempa Padang, letusan Merapi, Gamalama, dan Kelud.(*)

Penulis Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu