Pengabdian Mahasiswa Bidikmisi di Pelosok Bumi Wali

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim pengmas AUBMO saat mengukur tensi di Dusun Gegunung, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban (Foto: Nuri Hermawan)

UNAIR NEWS – Keterbatasan, sekali lagi, tidak menghalangi naluri untuk senantiasa berbagi dan mengabdi kepada sesama. Seperti yang tengah dilakukan oleh mahasiswa penerima bantuan pendidikan Bidikmisi. Meski berangkat dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi, mahasiswa yang tergabung dalam organisasi bidikmisi UNAIR (AUBMO, -red),  mengadakan pengabdian masyarakat (pengmas) di Dusun Gegunung, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Wilayah ini tepat 40 KM sebelah selatan dari arah Kota Tuban.

Kegiatan pengmas yang dilaksanakan di bumi wali tersebut berlangsung selama empat hari, terhitung mulai tanggal 17 – 20 Januari 2016. Sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, keagamaan, seni dan olahraga menjadi program garapan tim selama pengmas berlangsung.

Di hari pertama pengabdian diberikan penyuluhan terhadap pentingnya deteksi dini demam berdarah (DBD) dan muntaber, serta diadakan imunisasi. Selain itu, tim pengmas juga mendatangi TPQ dan mengajar di sana. Kegiatan ini dikemas sedemikian rupa dengan tujuan untuk lebih menghidupkan TPQ di sana.

Ditemui reporter UNAIR NEWS di lokasi pengabdian, Ikhwanun Mudhofir Hariri, selaku ketua AUBMO demisioner, menuturkan bahwa selain memberikan beragam bentuk kepedulian kepada masyarakat, kegiatan yang mengangkat tema “Bersama Bidikmisi Menuju Masyarakat Kreatif dan Semangat Indonesia Produktif”, diharapkan mampu menjadi laboratorium pengmas bagi mahasiswa bidikmisi.

“Kami sebagai mahasiswa bidikmisi yang berasal dari masyarakat, sudah sepatutnya untuk belajar kembali ke masyarakat,” jelasnya.

Wildan Haffata Yahfitu Zahra, selaku ketua panitia, menuturkan bahwa lokasi pengmas di dusun Gegunung dipilih karena berbagai pertimbangan. Selain kondisi dusun yang jauh dari jalan raya, tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah, kondisi ekonomi yang masih rawan, serta terbatasnya fasilitas kesehatan, dusun yang dihuni 300 kepala keluarga tersebut juga rawan kriminalitas.

“Beberapa aparat sempat berpesan kepada kami, setidaknya kedatangan kami bisa mengubah pola pikir masyarakat di sini. Selain itu, saya juga berharap kegiatan ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah setempat”, paparnya.

Senada dengan harapan tim pengmas, Eka (26) warga Dusun Gegunung yang juga menjadi tim posyandu dusun setempat, berharap ada perubahan di dusunnya setelah kegiatan pengmas dilakukan.

“Yang penting selepas teman-teman pengmas kembali ke Surabaya, ada hal yang bisa kami lanjutkan di sini”, pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan
Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu