Prof. Pantja: Mempertahankan Sapi Lokal untuk Cadangan Konsumsi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. drh. Sri Pantja Madyawati, M.Si dihadapan para tamu undangan menyampaikan pidatonya mengenai sapi lokal sebagai cadangan konsumsi. (Foto: Yitno Ramli)

UNAIR NEWS – Problem tentang ketersediaan daging sapi akan terus menjadi berita terhangat bagi publik, terutama menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari-hari besar itu, konsumsi daging sapi akan melonjak. Kelangkaan daging akan mengakibatkan kenaikan harga jual meski tidak terjadi secara merata di Indonesia.

Untuk menghindari kelangkaan daging, Prof. Dr. drh. Sri Pantja Madyawati, M.Si, menjelaskan bahwa pemerintah harus melakukan terobosan program yang signifikan dalam pembangunan peternakan sapi. Peternakan sapi itu diperkuat dengan ‘melestarikan’ sapi-sapi lokal.

Ungkapan itu ia sampaikan dalam orasi ilmiahnya saat prosesi pengukuhan guru besar. Orasi ilmiah berjudul Penguatan Ilmu Fisiologi Reproduksi Veteriner untuk Mempertahankan Diversitas Fauna dalam Mencapai Swasembada Ternak Sapi Indonesia, disampaikan oleh Prof. Pantja dalam pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar bidang Fisiologi Reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga. Pengukuhan dilaksanakan di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR, Sabtu (16/1).

Tingginya harga daging sapi yang disebabkan kelangkaan itu mengakibatkan beralihnya pilihan konsumen kepada produk yang lain. Padahal, daging sapi memiliki kandungan protein hewani yang dibutuhkan oleh tubuh.

Guru Besar ke-444 UNAIR mengutip sejumlah data yang dimuat pada media massa. Pada tahun 2009, tingkat konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Pada tahun 2009, tingkat konsumsi daging sapi di Indonesia 1,88 kilogram per kapita per tahun. Data terakhir pada tahun 2014, tingkat konsumsi daging sapi di Indonesia sebesar 2,56 kg per kapita per tahun.

Oleh karena itu, untuk mendorong tingkat konsumsi daging, dibutuhkan ketersediaan daging yang melimpah di pasaran. Memperbanyak stok daging pada akhirnya akan mempengaruhi harga menjadi lebih terjangkau oleh masyarakat.

Sebagai Guru Besar bidang Fisiologi Reproduksi, Prof. Pantja berpendapat bahwa produktivitas dan populasi sapi lokal perlu ditunjang oleh tiga faktor, yaitu breeding (pembiakan), feeding (makanan), dan management (manajemen).

Faktor breeding dalam reproduksi seekor sapi betina untuk menghasilkan pedet dengan menggunakan bibit unggul dari sapi-sapi lokal Indonesia. Dengan pembibitan unggul, maka keanekaragaman sapi lokal di Indonesia dapat dipertahankan. Pembiakan itu dapat memanfaatkan teknologi reproduksi, seperti teknik sinkronisasi birahi, superovulasi, teknik inseminasi dengan menggunakan semen beku, dan pemanfaatan teknik embrio transfer.

Pemerintah pusat maupun daerah sama-sama memiliki program untuk pembibitan dan penggemukan sapi. Pada tahun 2015, misalnya, Direktorat Jenderal Peternakan mencanangkan pendirian Sentra Pembibitan Ternak dan program penggemukan sapi secara terpadu, terencana, menyeluruh, dan berkesinambungan.

Namun, bagi Prof. Pantja, kebijakan pembibitan dan penggemukan sapi belum dilaksanakan secara terpadu di semua lini.

“Tahun 2015, FKH UNAIR, ditunjuk oleh Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, sebagai tim penanggulangan gangguan kesehatan reproduksi. Seharusnya tim penanggulangan gangguan kesehatan reproduksi ini berdampingan dengan kegiatan getak birahi dan inseminasi buatan,” tuturnya.

“Inseminasi buatan dan kawin suntik pada ternak itu dilakukan apabila tidak ada cacatnya dalam tubuh sapi. Tapi kalau tidak normal, seperti gangguan reproduksi, ini harus dilakukan berkesinambungan atau berkaitan,” imbuh Guru Besar aktif ke-21 FKH UNAIR.

Dari orasi ilmiah Prof. Pantja, ia menyampaikan bahwa Indonesia kaya akan jenis sapi lokal. Oleh karena itu, sapi lokal itu harus dilestarikan.

“Sapi lokal kita, baik dari Nusa Tenggara Timur sampai Aceh, itu perlu diberdayakan. Caranya? Dengan teknik inseminasi buatan. Itu adalah salah satu cara membiakkan ternak-ternak sapi lokal yang ada di daerah masing-masing. Kita dari akademisi akan membantu proses pencapaian peningkatan populasi,” tegas Guru Besar ke-152 sejak UNAIR PTN-BH.(*)

Penulis : Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu