Prof. Narsa: Akuntan Tak Sekadar Bookkeeper, Tapi Juga Pengambil Keputusan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. I Made Narsa, S.E., M.Si., CA. saat sedang memberikan pidatonya mengenai akuntan dihadapan para tamu undangan (Foto: Yitno Ramli)

UNAIR NEWS – Dewasa ini, peran akuntan mengalami pergeseran fenomenal. Dulu, akuntan hanya dikenal sebagai auditor, bookkeeper, dan penyedia informasi. Sekarang, profesi akuntan sudah masuk ke lintas sektoral hingga ke puncak pimpinan tertinggi.

Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. I Made Narsa, S.E., M.Si., CA, selaku Guru Besar dalam bidang Ilmu Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga. Dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar FEB UNAIR, Narsa menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pergeseran-pergeseran dalam Akuntansi dan Peran Strategis Akuntan untuk Mengawal Tata Kelola yang Baik dan Bersih. Orasi itu disampaikan di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, UNAIR, pada Sabtu (16/1).

Prof. Narsa dalam pidatonya menyampaikan bahwa seorang akuntan harus memiliki mindset yang berbeda dari sebelumnya. Profesi akuntan harus bisa mengawal pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan akuntabel.

Secara alamiah, ilmu akuntansi akan berevolusi mengikuti perkembangan lingkungan. Ketika tuntutan perlunya harmonisasi akuntansi di seluruh dunia, akuntansi bergeser dari rule-based ke principle-based. Ketika proses bisnis semakin rumit, dalam akuntansi telah muncul konsep activity based costing.

“Ketika isu-isu tentang lingkungan mulai menyeruak, maka akuntansi juga berevolusi dengan melahirkan konsep green accounting dan sustainability reporting. Berkembangnya forensic accounting juga bentuk respon akuntansi terhadap kebutuhan akan pentingnya tata kelola yang baik dan bersih. Akuntansi saat ini bahkan telah berkembang beyond materiality memasukkan dimensi-dimensi spiritualitas untuk menciptakan nilai bagi stakeholder yang lebih luas,” tutur Guru Besar ke-445 UNAIR.

Lingkungan yang dinamis menantang akuntan untuk mengubah mindset. Prof. Narsa mengatakan bahwa akuntan harus sanggup dan mau berperan pada posisi strategis sebagai pengurai masalah, pemimpin perusahaan, dan enabler.

Sebagai seorang pengurai masalah, akuntan dituntut untuk mampu berpikir kritis dan kreatif. Penggabungan pemikiran kritis dan kreatif, kata Prof. Narsa, akan memunculkan pandangan-pandangan baru dalam memecahkan persoalan bangsa.

“Akuntan bukan lagi penyedia informasi, melainkan pengambil keputusan. Akuntan harus terus belajar untuk lihai mengkomunikasikan gagasan, menegosiasikan kemenangan, mengelola human capital, lincah dalam membangun jaringan, dan mampu berhadapan dengan berbagai masalah sosial budaya,” jelas Prof. Narsa yang juga Kepala Perpustakaan UNAIR itu.

Presiden RI Joko Widodo bercita-cita menciptakan pemerintahan yang bersih (clean governance). Salah satu indikator bersihnya pemerintahan adalah raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Namun, opini WTP tidak menjamin bebas korupsi. Beberapa provinsi, kabupaten, dan kota yang laporan keuangannya mendapat opini WTP dari Badan Pemeriksa Keuangan, justru pejabatnya tertangkap kasus korupsi.

“Jika yang memperoleh opini WTP saja belum clean, bagaimana dengan laporan keuangan yang memperoleh opini selain WTP?,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa seorang akuntan memiliki tantangan strategis. Menurut Prof. Narsa, tantangan itu adalah memberdayakan semua sumber daya untuk berfungsi secara optimal, efektif dan efisien, serta meningkatkan literasi akuntansi masyarakat.(*)

Penulis : Defrina Sukma S.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu