Menachem Ali saat berada di kota Fess, Maroko (Foto: dok. M. Ali)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di balik kegigihannya mengumpulkan manuskrip dan buku langka dari seluruh penjuru dunia, Menachem Ali menyimpan sebuah mimpi besar tentang studi manuskrip Jawa Timur. Dosen FIB UNAIR ini sangat menyayangkan, Jawa Timur belum memiliki pusat kajian manuskrip, padahal itu sangat dibutuhkan dalam kajian filologi.

“Saya ingin nanti punya tempat khusus yang menjadi rujukan semua orang. Khususnya untuk studi filologi. Di sana saya sediakan tulisan-tulisan tangan sebagai miniatur aset kebudayaan Jawa Timur,” tutur lelaki yang bernama lahir Mochammad Ali ini.

Apalagi aset heritage Jawa Timur sangat luar biasa. Bapak satu anak ini melihat Jawa Timur sebagai negeri yang tidak sembarangan sebab tiga periode peradaban Jawa berpusat di Jawa Timur. Hal itu dapat dilihat melalui tradisi kesusastraan Jawa dalam manuskrip sejak era Majapahit.

“Serat Pararaton itu dihasilkan di Jawa Timur. Mengenai Kediri-Singosari, sampai akhirnya menjadi babon dari karyanya Pramodya Ananta Toer. Kalo Pram nggak baca naskah itu, ia nggak akan jadi orang besar,” jelasnya.

Tidak hanya itu, berdasarkan salah satu katalog yang dimilikinya. Jepang secara khusus mendata manuskrip yang ada di Jawa Timur. “Yang spektakuler lagi, Jepang sampai membuat katalog yang 75% isinya khusus manuskrip Jawa Timur. Kalau nggak ada sesuatu di Jawa Timur, nggak mungkin,” paparnya. (*)

Penulis : Hasan
Editor: Defrina S. Satiti

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone