Foto : Ensiklopedia-Indonesia
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Fakta mencengangkan terjadi di Indonesia. Dari sekitar 746 bahasa daerah, 75 bahasa daerah ditengarai mengalami kepunahan. Maka itu, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mulai merancang undang-undang tentang bahasa daerah yang tengah diuji oleh beberapa pakar dari seluruh Indonesia.

Pada pertemuan yang istimewa tersebut, Dr. Ni Wayan Sartini, M.Hum, dosen Sastra Indonesia UNAIR berkesempatan menyumbangkan analisisnya. Ahli linguistik budaya ini menjelaskan, beragam hal yang menjadi penyebab semakin lemahnya bahasa daerah sebagai sarana tutur. Antara lain anggapan bahwa bahasa daerah simbol pikiran tradisional, bahasa orang kampung, dan bahasa tak bergengsi.

“Perhatian organisasi besar dunia seperti PBB terhadap keberlangsungan bahasa daerah telah terbukti. Melalui UNESCO, 21 Februari resmi ditetapkan sebagai hari bahasa ibu internasional. Hal ini menjadi landasan betapa pentingnya eksistensi bahasa ibu sebagai pembentuk karakter dan penguatan jati diri,” terang lulusan Univeritas Udayana Bali tersebut.

Wayan memaparkan langkah-langkah untuk mempertahankan bahasa daerah. Salah satunya, dengan menggelorakan penggunaan bahasa daerah secara konsisten oleh penutur asli. Selain itu, butuh dorongan kuat pemerintah untuk merumuskan strategi “revitalisasi” penggunaan dan pembelajaran bahas daerah.

“Revitalisasi dalam hal ini merupakan upaya-upaya untuk menjaga bahasa tersebut, bisa melalui dokumentasi bahasa, pelatihan kepada guru-guru, penerbitan buku ajar, dan mendirikan pusat-pusat komunitas,” imbuhnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone