Rumah Budaya Airlangga Sebagai Etalase Seni Kampus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rumah-budaya
Salah satu sudut rumah budaya. (Foto: Unair News)

Albert Camus menganggap seni, nyaris mirip dengan pemberontakan, sebuah gerakan yang pada waktu bersamaan bersifat mengagungkan sekaligus mengingkari kenyataan. Kreasi seni dengan demikian merupakan kehendak kesatuan dengan, dan sekaligus suatu penolakan terhadap dunia. Ia menolak dunia baik karena hal-hal yang tidak ada padanya maupun atas nama hal-hal yang terkadang ada padanya.

Dengan demikian pemberontakan dapat ditemukan pada seni dalam keadaan yang murni, dalam komposisi primitifnya, di luar sejarah. Karena itulah seni dapat memberikan kita perspektif ke dalam isi pemberontakan.

Eksistensi seniman sebagai pemberontak terhadap kenyataan sekaligus sebagai pencipta kenyataan kedua merupakan hakekat sosial yang berbeda dengan komunitas apa pun yang pernah ada. Karena itu komunitas seniman selalu elitis dan penuh pemberontakan. Mereka selalu berada dalam masa dan keadaan fenomenal, sebagai tanda-tanda jaman, dan semacam faktor devian dari serangkaian perubahan sosial.

Begitu pula seni lukis pada dasarnya adalah pendekatan untuk memahami realita. Karena itu bisa bercorak simbolik, impresif, ekspresionis, abstrak, dan surealis. Bentuk dan corak tiap lukisan tentu sesuai dengan pengalaman pribadi, obsesi diri, pemberontakannya terhadap kenyataan dan visi pelukisnya. Semua itu berarti pelukis adalah Sang Pencipta Cilik. Ia mencipta realita atas realita yang ada, membuat teater-teater kehidupan dalam bahasa estetika dan artistik yang nyaris pribadi. Akibatnya terjadi jurang yang jauh antara masyarakat dan pelukis. Hal tersebut menjadikan pameran lukisan semacam obor penting untuk mengartikan realita dari sang pelukis.

Unit Kajian Kebudayaan Jawa Timur (UK2JT) Universitas Airlangga sebagai wadah penelitian dan pengembangan budaya merekrut dua belas pelukis Surabaya untuk berbagi tempat bagi karya-karya seni mereka yang dipamerkan dalam pameran lukisan bertajuk Kebangkitan Nasional: Ketemu Bareng Rolas Pelukis pada Mei 2015 lalu.

Pameran lukisan disemarakkan oleh karya-karya luar biasa seniman Surabaya, diantaranya adalah Amdo Brada, M. Fauzi, Gito Kabasa, Haes, Her Rooesmadhi, Mierza Said, R. Nagayomi, Setyoko, Solik Emer, Totok Mardianto, Q. Sakti Laksono, dan Aribowo. Berbagai corak tampak mewarnai dan memadati Rumah Kebudayaan. Tentu saja, setiap karya yang dipamerkan memiliki keunikan yang menjadi ciri khas pelukisnya.

Pengunjung yang datang melewati pintu akan berhadapan langsung dengan karya yang tak biasa milik Amdo Brada. Karyanya dapat dikatakan tergolong sederhana namun unik dengan gambar ikan memenuhi kanvas yang menonjolkan garis dan beraliran dekoratif primitif/tradisional. Selain lukisan bertajuk ‘Etnik’ milik Amdo, terdapat pula lukisan bercorak naifisme milik M. Fauzi yang lebih condong ke dunia anak-anak.

“Kalau yang ini ada yang bersifat karakter Bima. Karena Bima memiliki karakter jujur, bijaksana. Jadi pancasila harus berkembang secara kebijakan dan kejujuran sesuai butir-butir pancasila,” tutur M. Fauzi ketika menjelaskan makna salah satu lukisannya yang berjudul Kebangkitan Nasional.

Gambar-gambar M. Fauzi seringkali dipakai oleh media massa, sehingga tidak mengherankan bila karyanya dapat menembus angka 30 juta.

Sebagai dekan FIB, Aribowo ingin memberi sentuhan nilai-nilai budaya di Universitas Airlangga. Dalam hal ini, UK2JT memegang peranan penting sebagai lembaga akademis yang dapat menjadi rujukan akademis tentang budaya Jawa Timur pada lingkungan kampus. Sebab pada era modern dan globalisasi macam ini, tidak banyak masyarakat yang mau melestarikan atau sekadar mengenali budaya Nusantara sebagai identitas mereka.

“Unair ini kan trade marknya kesehatan. Memang masih awal, tapi kita usahakan tempat ini dikenal oleh orang-orang sebagai ruang publik. Biar sentranya tidak hanya di tempat tertentu, tapi bahwa Unair peduli pada kebudayaan lewat unit kajian ini,” kata Adi Setijowati selaku ketua UK2JT pada UnairNews.

Selain dipadati karya-karya rolas pelukis, pameran ini juga mengajak kedua belas pelukis tersebut untuk mengikuti demo melukis pada sebuah kanvas panjang yang nantinya dipenuhi dengan coretan-coretan berseni dari tangan mereka. (Lovita Marta Fabella Cendana)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu