Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
pre-wedding
Foto: Istimewa

Pre-marital screening atau cek kesehatan pranikah ternyata belum cukup membudaya di kalangan masyarakat Indonesia. Umumnya pemeriksaan ini belum dianggap sebagai hal penting yang perlu dilakukan setiap pasangan sebelum menikah. Padahal, jika setiap pasangan mau menyadari, pemeriksaan ini sesungguhnya dapat menghindarkan dari berbagai risiko penyakit jangka panjang, bagi mereka maupun keturunannya. Lantas, seberapa pentingkah pemeriksaan pranikah ?

tips-dr-Ardian-
Muhammad Ardian C. L., dr., Sp.OG, M.Kes. (Foto: istimewa)

Dokter ahli kandungan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR), Muhammad Ardian C. L., dr., Sp.OG, M.Kes., berbagi informasi seputar pentingnya para calon pasutri melalui tahap pemeriksaan kesehatan pranikah.

Ardian menjelaskan, pemeriksaan kesehatan pranikah yang dilakukan meliputi pemeriksaan riwayat penyakit terdahulu, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan riwayat penyakit terdahulu memberikan gambaran risiko penyakit yang dimiliki. Kemudian melalui pemeriksaan fisik bisa diketahui adanya gangguan maupun kelainan. Dengan pemeriksaan laboratorium, penyakit-penyakit yang belum diketahui sebelumnya bisa dideteksi. Semua ini dilakukan semata-mata untuk mengetahui risiko penyakit dan melakukan penanganan sedini dan semaksimal mungkin.

Menurut Ardian, pemeriksaan kesehatan pranikah sangat penting dilakukan untuk mengetahui risiko pada diri masing-masing pasangan, juga risiko untuk generasi keturunan mereka. Banyak hal yang bisa diantisipasi dengan adanya pemeriksaan kesehatan pranikah, antara lain risiko penularan penyakit, risiko invertilitas, kematian ibu dan bayi, serta lahirnya bayi cacat.

Skrining bisa mengantisipasi penularan penyakit infeksi, seperti TBC, HIV, toxoplasma dan hepatitis. Jika diketahui salah satu dari pasangan calon pengantin menderita penyakit infeksi, HIV misalnya, maka ada dua pilihan, ketika nanti melakukan hubungan seksual suami menggunakan kondom, dan atau jika memutuskan untuk memiliki keturunan, maka istri harus rutin mengonsumsi obat anti-HIV.

Demikian juga dengan penyakit infeksi toxoplasma yang menyebabkan keguguran dan bayi cacat. Hal ini bisa dihindari dengan dengan melakukan pengobatan sebelum istri hamil. “Jadi KB dulu, kalau sudah sembuh baru bisa hamil untuk mengurangi risiko bayi cacat,” ungkap Ardian.

Sementara itu, cukup sulit mengantisipasi penularan hepatitis B antar pasangan. Namun, dengan skrining antispasi penularan hepatitis dari ibu ke anak bisa dilakukan. Setelah persalinan, bayi diberikan vaksin hepatitis sehingga tidak tertular hepatitis yang diderita ibunya.

Risiko penyakit hormonal juga bisa diantisipasi dengan skrining. Penyakit hormonal seperti diabetes melitus, memberikan risiko keguguran pada ibu hamil dan berisiko bayi lahir cacat. Dengan skrining pranikah, istri bisa mengantisipasi hal tersebut dengan menjaga pola hidup untuk mengendalikan kadar gula darahnya.

Begitu pula dengan penyakit kongenital, kelainan jantung misalnya. Meskipun penyakit ini tidak menular, tetapi pada istri yang hamil berisiko kematian jika kerusakan jantung yang dialaminya tergolong berat. “Jika membahayakan ibu, sebaiknya kehamilan tidak diteruskan. Sebab saat hamil, kerja jantung menjadi lebih berat,” papar pemilik rumah bersalin Graha Amani, Sidoarjo ini.

Rhesus, juga patut menjadi perhatian pasangan yang akan menikah. Pasangan beda rhesus memiliki kemungkinan menghasilkan janin yang beda rhesus. Apabila hal ini terjadi, tubuh ibu akan menganggap janin yang beda rhesus ini sebagai benda asing. Akibatnya, bisa keguguran atau bayi lahir dengan anemia, hati bengkak, sakit kuning, hingga gagal jantung. Namun, menurut Ardian, risiko beda rhesus ini kecil untuk pernikahan sesama ras Asia, sesama orang Indonesia misalnya, yang rata-rata memiliki rhesus positif.

Risiko lain yang bisa diantisipasi adalah invertilitas (ketidaksuburan). Melalui skrining, calon pasangan suami-istri bisa mengetahui kondisi sistem reproduksinya. Misalkan pada wanita dengan obesitas, risiko invertilitasnya tinggi, maka ia harus menurunkan berat badannya mendekati ideal jika ingin sukses hamil. Begitu pula jika terjadi gangguan pada sistem reproduksinya, bisa dilakukan pengobatan lebih dulu.

Kesehatan reproduksi pria juga bisa diketahui melalui skrining. Apabila ditemukan gangguan, maka faktor-faktor risiko harus dihindari, misalnya merokok, terpapar radiasi dan terkena panas berlebihan yang bisa merusak sel sperma. Jika ada kelainan pada alat reproduksi, bisa dilakukan operasi dan pengobatan. “Hal ini bisa meminimalisir kasus invertilitas yang sering membuat pasangan gelisah karena lama tidak mendapatkan keturunan,” ungkap dokter yang sering membantu pasangan suami istri untuk mendapatkan keturunan ini. (ind)

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu