kampus-unair
Foto: Istimewa
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Pada 2019, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) menargetkan UNAIR untuk masuk 500 top dunia berdasarkan lembaga perankingan QS World University Rankings (QS – WUR). Agar dapat memenuhi target tersebut, Kemenristek Dikti menggelontorkan uang senilai Rp 5 M. Dana tersebut nantinya digunakan sesuai dengan kebutuhan perguruan tinggi yang bersangkutan, agar kemudian dapat digunakan untuk program-program yang memang perlu ditingkatkan dan diperbaiki.

“Mengejar 500 dunia adalah indikator untuk mendapatkan pengakuan internasional. Semakin baik rankingnya, mengindikasikan bahwa perguruan tinggi tersebut berperan serta terhadap banyak hal itu tadi (kriteria menurut QS – WUR, –red). Lulusan bereputasi, publikasi berkualitas, itu yang perlu kita tingkatkan,” tutur Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, SE, MT, Ak

Mengenai perankingan dan target Kemenristek Dikti tersebut, Prof Nasih menekankan bahwa yang jauh lebih penting bukan perankingannya, namun indikator yang harus dicapai dari perankingan tersebut.

“QS – WUR hanya alat untuk melihat bagaimana dunia internasional melihat kita. Kalau saya tetap saja, ujung-ujungnya adalah kita ingin lembaga kita berkualitas, berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban, berkontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta lulusan ini. Itu output yang kita harapkan. Bahwa itu akan tercapai, pasti akan berakibat pada baiknya peringkat kita,” tutur Prof Nasih.

“Bukan soal peringkatnya. Tapi bagaimana soal kita menjadi lebih baik,” tegasnya.

Kiat UNAIR menuju 500 top dunia

Bidang-bidang yang targetnya akan diperbaiki diantaranya adalah jurnal ilmu pengetahuan dan pengembangan ilmu yang bagus dan berkembang dimana-mana, menggenjot publikasi ilmiah, memperbaiki rasio jumlah dosen dan mahasiswa, serta akreditasi program studi. Program studi yang belum terakreditasi A, didorong supaya dapat naik menjadi A. Begitupun prodi yang telah terakreditasi A, didorong untuk dapat mengajukan menjadi akreditasi internasional. Lulusan yang bereputasi juga salah satu target UNAIR ke depan menuju 500 top dunia.

“Kita ingin kualitas kita lebih baik. Salah satu bentuk atau indikator yang baik adalah akreditasi. Kalau kita sudah bisa internasional, berarti dunia internasional sudah mengakui proses pendidikan kita. Kita semua harus menuju akreditasi yang lebih baik,” tuturnya.

Publikasi ilmiah adalah salah satu kriteria yang digunakan QS – WUR dalam melakukan perankingan. Menurut Prof Nasih, semua program yang memicu UNAIR dapat masuk 500 dunia akan didorong.

“Pertama, program mengajar dikurangi, sehingga dosen sempat meneliti. Harus menambah tenaga pengajar. Bikin artikelnya kita dampingi. Kita juga punya Pusat Pengembangan Jurnal Ilmiah dan Publikasi. Itu bagian dari upaya kita mendorong dosen untuk banyak lagi meneliti, mengajukan artikel berkualitas untuk layak masuk jurnal yang berakreditasi dan terindeks,” tutur Prof Nasih.

Menurutnya, tenaga pengajar perlu ditambah agar dosen-dosen yang ada sempat membaca, melakukan penelitian, dan membuat artikel ilmiah.

“Agar penelitian sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak terlupakan,” tegas Prof Nasih.

Rasio jumlah antara dosen dan mahasiswa juga harus diperhatikan. Menurut Prof Nasih, idealnya, rasio jumlah antara dosen dan mahasiswa adalah 1:20 untuk bidang sosial, dan 1: 15 atau 1:10 untuk bidang eksakta. Adanya publikasi jurnal ilmiah yang banyak berarti telah ikut berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Rasio jumlah antara dosen dan mahasiswa berarti proses pendidikan telah bagus. Reputasi lulusan yang banyak bekerja di lembaga internasioal, juga menandakan bahwa perguruan tinggi telah mampu menghasilkan lulusan yang memberi sumbangsih terhadap masyarakat.

“Kita ingin lulusan yang bereputasi, proses akademik bagus, pengembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa,” tegas Prof Nasih.

Perjuangan pencapaian tentunya tak berhenti pada 500 dunia. Seperti kata Prof Nasih, meskipun nantinya pencapaian telah dilakukan tak lantas kita bersantai-santai dan berhenti mengejar pencapaian. Peningkatkan keunggulan harus terus dilakukan agar tidak tertinggal dengan perguruan tinggi lain yang ikut bersaing. Prestasi yang telah dicapaipun agar tetap dipelihara.

“Sesuai dengan target pemerintah tahun 2019. Kita harus optimis. Ya paling lambat tahun 2020 kita sudah masuk ke 500 dunia, insha Allah,” tutur Prof Nasih yakin. (bin)

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone