Mahasiswa FEB Punya Komunitas Penyuka Kultur Jepang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Jepang
Jet members striking a pose in an event. (Photo: Unair News)

Japanese Enthusiast (JEt) berawal dari inisiatif beberapa orang mahasiswa di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR yang berkeinginan untuk berkumpul di antara sesama pecinta Jepang. Gayung bersambut ketika Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB membuka kesempatan bagi seluruh mahasiswa FEB untuk membentuk komunitas di internal FEB. Kesempatan tersebut kemudian tidak disia-siakan oleh JEt untuk menjaring lebih banyak mahasiswa FEB yang tertarik dengan berbagai hal berbau Jepang untuk bergabung bersama dalam JEt. Sampai saat ini, limapuluh orang sudah tercatat sebagai anggota JEt.

Trisna Setia Permana, ketua komunitas JEt, menyatakan bahwa beragamnya ketertarikan anggota akan berbagai hal tentang Jepang, membuat JEt akhirnya membentuk berbagai divisi. Divisi-divisi itu antara lain adalah divisi budaya dan bahasa, seni, dan anime yang masing-masing memiliki fokus tersendiri. Divisi budaya dan bahasa memiliki kegiatan seperti tutorial bahasa Jepang, pembahasan tentang kuliner-kuliner Jepang, origami, dan tradisi Jepang secara umum. Divisi seni lebih berfokus pada seni kontemporer Jepang seperti musik Jepang (J-Pop), drama Jepang dan cosplay. Sedangkan, divisi anime mewadahi mereka yang tertarik dengan seni menggambar anime yang pada awalnya adalah komunitas tersendiri sebelum akhirnya bergabung bersama di JEt.

Jepang-(2)
Foto: UnairNews.com

“Dari kecil, banyak dari kita sudah akrab dengan kartun dan tontonan Jepang yang banyak tayang di televisi-televisi Indonesia. Dari situ paling tidak sudah mampu menjadi daya tarik awal bagi banyak anak Indonesia untuk berusaha belajar lebih tentang Jepang,” ungkap Trisna ketika ditanya perihal alasan ketertarikan banyak anak muda Indonesia tentang berbagai hal berbau Jepang.

Selain itu ia juga menambahkan, faktor masyarakat Jepang bisa jadi melatarbelakangi ketertarikan akan Jepang secara lebih luas. Ia mencontohkan, meskipun sumber daya alam Jepang begitu minim mereka mampu menyiasati hal tersebut dengan optimalisasi industri kreatif yang justru bisa memberikan nilai tambah bagi Jepang sendiri. Trisna juga menyebut adanya keinginan yang lebih untuk mengkaji budaya minta maaf, disiplin, dan sopan santun yang diterapkan secara luas oleh masyarakat Jepang.

Meski ketertarikan akan Jepang mendominasi komunitas yang dipimpinnya, Trisna mengungkapkan bahwa kecintaan para anggotanya terhadap Indonesia tidak akan pernah luntur. Meskipun di awal pernah dicap tidak nasionalis, ia meyakini bahwa dengan bergabung dalam komunitas JEt justru para anggota dapat mempelajari faktor-faktor yang membuat Jepang bisa menjadi maju sehingga dapat diterapkan di Indonesia.

Kedepan, ia berharap semakin banyak anggota aktif yang bergabung sehingga JEt tidak hanya besar dari segi kuantitas namun juga dari segi kreativitas. Ia mengatakan JEt ke depannya akan mencoba menelurkan kegiatan-kegiatan bermanfaat semacam pelatihan jiwa kewirausahaan bagi para anggota, misalnya dengan produksi kuliner Jepang ataupun pembuatan komik, sehingga komunitas yang ada benar-benar produktif, dan tidak sekadar berkumpul bersama tanpa tujuan yang jelas. (yda)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu