Airbone, Bonek Kampus Unair

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
AIRBONE
Beberapa anggota Airbone sedang berpose

Jika mendengar Persebaya, maka spontanitas kaum Bonek akan menyuarakan diri sebagai suporter loyalnya. Begitulah yang selama ini terlihat. Loyalitas Bonek begitu kentara terlihat di setiap pertandingan Persebaya tampil. Kaum Bonek inipun eksis di kampus biru kuning bernama Unair. Mereka menamakan dirinya dengan Airlangga Bonek atau disingkat dengan Airbone, bahkan mereka mempunyai jargon tersendiri yaitu, “From UNAIR for green force”, dan “Nekat, excellent with morality”.

Komunitas Bonek digagas pertama kali pada tahun 2007 oleh beberapa mahasiswa FISIP dan FEB. Salah satunya adalah Bagus Tedy Prasetyo yang kini sudah lulus. Awalnya, Airbone didirikan untuk mengkoordinir mahasiswa UA pencinta Persebaya dan menjadi wadah untuk berkumpul. “Terlebih jika hendak ada pertandingan kita biasanya kumpul di bawah bendera depan Pinlabs lama”, ujar Bayu Ganang Dwi Prasetyo, bagian merchandise dan ticketing.

Di awal berdirinya, Airbone masih mengalami kendala terkait koordinasi antar fakultas. Baru pada tahun 2009 mulai dibentuk kepengurusan struktural yang jelas. Sejak tahun 2013, ketua dari Airbone adalah Nico, mahasiswa FEB jurusan Akuntansi. Hingga kini, anggota yang terdata sudah lebih dari seratus mahasiswa. Bahkan di dalamnya turut serta beberapa suporter Persebaya yang juga anggota perempuan yang disebut Bonita.

Rabu malam merupakan kegiatan rutin untuk berkumpul bagi para Airbone ini. Tempat berkumpul mereka biasanya di bawah bendera depan Pinlabs lama. Saat yang paling ramai berkumpul adalah jika Persebaya hendak bertanding. Biasanya rabu malam itu digunakan untuk mendata siapa saja yang hendak berpartisipasi nonton pertandingan tersebut. Rekor terbanyak dari Airbone berkumpul untuk nonton bareng sebanyak 70 mahasiswa. Meskipun nonton bola lekat dengan imej tawuran, kisruh dan lain sebagainya, tapi Airbone lebih memilih sikap tidak turut andil dalam tawuran atau kekisruhan itu.

Tak hanya sekedar berkumpul dan meramaikan stadion tatkala Persebaya bertanding, Airbone pun pernah melakukan kegiatan sosial. Saat Ramadhan tiba, komunitas Airbone membagikan takjil kepada masyarakat.

Airbone pernah bekerjasama dengan Bonek dari kalangan mahasiswa ITS dan UPN menggelar donor darah saat memperingati hari lahirnya Persebaya pada 18 Juni beberapa tahun yang lalu. Bertepatan dengan   Hari Kartini 21 April 2012 lalu, para Bonita pernah diundang radio HardRock FM untuk ikut merayakan momen tersebut. Awal tahun 2013 kemarin pun sempat mengadakan welcome party di belakang perpustakaan kampus B untuk menggaet mahasiswa baru.

Wadah perkumpulan para Bonek ini yang tergabung dalam Airbone, menjadi suatu komunitas yang menarik dan menyenangkan bagi para anggotanya. “Seru. Dapat keluarga, dan pengalaman baru. Bahkan senang sekali jika bisa ikut mendukung Persebaya sampai keluar kota. Di stadion tidak sendiri, ada yang bisa diajak bicara. Selama nontonpun ada dresscode seperti baju dan syal yang tambah merasa punya banyak saudara”, papar Bayu, mahasiswa jurusan Pariwisata FISIP, ketika ditanya kesannya selama bergabung di Airbone.

Meskipun kini tengah terjadi konflik dualisme dalam tubuh Persebaya, Airbone sendiri menyikapinya dengan positif. “Intinya kita tetap satu suara untuk mendukung Persebaya yang asli, yaitu yang lahir tahun 1927. Bonek di Airbone ini tetap terkoordinir dengan baik agar tidak goyah” papar Rendy Dwi Prabowo dari FEB, wakil ketua Airbone. Lebih lanjut, Rendy memaparkan bentuk dukungan itu semisal Airbone bersama ribuan Bonek 1927 lainnya menagih janji Walikota Surabaya Tri Rismaharini untuk menolak Konferensi Luar Biasa (KLB) PSSI yang hendak diselenggarakan di Surabaya. (lis)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu