Menuju Top 500 World Class University Pada 2019

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
rektorat
Foto: ipk.sinarharapan.co

Universitas Airlangga menjadi salah satu universitas yang ditunjuk oleh pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti) untuk menjadi universitas kelas dunia. Untuk itu, pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp 5 milyar untuk UNAIR mengejar rangking 500 dunia pada 2019.

Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR, Badri Munir Sukoco, S.E., MBA, Ph.D, menyatakan optimis UNAIR bisa menjadi Top 500 World Class University pada 2019. Pada 2015 ini UNAIR menduduki peringkat 701+ QS World University Rankings (QS – WUR).

“Dengan kerja bareng, kolaborasi dan penerapan chance management, saya optimis pada 2019 UNAIR bisa masuk ranking 500 dunia,” ungkap Badri.

Chance management (manajemen peluang) diterapkan dengan memetakan SWOT dan membuat target-target tertentu yang disebarkan dengan model rencana strategis (renstra) pada masing-masing unit kerja, fakultas dan program studi (prodi). Semua prodi di UNAIR ditargetkan mendapatkan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN – PT). Sementara itu, bagi prodi yang sudah terakreditasi A harus mengajukan akreditasi internasional.

Saat ini, dari total 39 prodi S1 di UNAIR, 24 prodi terakreditasi A, 10 prodi terakreditasi B, dan lima lainnya adalah prodi baru yang belum wajib akreditasi, yaitu 4 prodi PDD Banyuwangi (Budidaya Perairan, Kedokteran Hewan, Akuntansi dan Kesehatan Masyarakat) dan prodi Teknologi Industri Hasil Perikanan. Sementara itu, enam prodi S1 telah mengantongi akreditasi internasional ASEAN University Network – Quality Assessment (AUN-QA). Perolehan skor untuk keenam prodi tersebut di atas standar rata-rata AUN (4), yaitu Pendidikan Dokter dengan skor 4,4, Pendidikan Apoteker 4,53, Ilmu Hukum 4,6, Pendidikan Dokter Hewan 4,1, Biologi 4,6 dan Kimia 4,5.

Tantangan untuk para dekan dan ketua prodi adalah menyusun renstra berdasarkan Key Performance Indicators (KPI). Anggaran yang dibuat juga berbasis KPI. Harapannya semua unit bisa berkolaborasi dalam mengembangkan potensinya untuk mempercepat peningkatan poin penialain QS – WUR yang meliputi academic reputation (reputasi akademik), employer reputation (reputasi pimpinan), faculty student ratio (rasio mahasiswa fakultas), citation per faculty (sitasi per fakultas), international student ratio (rasio mahasiswa internasional), dan international staff ratio (rasio staf internasional).

Dukungan Finansial

Untuk mengejar peringkat dunia, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana tersebut diantaranya digunakan untuk menggerakkan penelitian, menambah jumlah dosen, serta menambah infrastruktur.

Selain dukungan dana dari pemerintah sebesar Rp 5 milyar, UNAIR menargetkan tahun depan memiliki anggaran antara Rp 1,4 – 1,5 triliun (head count per mahasiswa Rp 40 juta). Besarnya anggaran per mahasiswa yang ditargetkan tersebut mengacu pada UI, ITB dan UGM yang berkisar pada Rp 50 juta, dan UB yang mencapai Rp 35 juta.

“Kalau dosen sedikit, akhirnya hanya bisa ngajar. Apalagi kalau tidak ada dana penelitian dan minim fasilitas, penelitian akan sulit berkembang,” jelasnya.

Selain menambah kuantitas dosen, kualitas dosen juga ditingkatkan dengan memberikan pelatihan melalui Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) dan workshop penelitian melalui Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI).

Dana 5 milyar dari pemerintah dinilai Badri sebagai pemicu UNAIR untuk bergerak. Menurutnya, UNAIR tidak bisa hanya mengandalkan dana dari pemerintah dan SPP mahasiswa. Pihaknya telah membuat simulasi, untuk memiliki dana sebesar Rp 1,5 T dengan sumbangan SPP mahasiswa maksimal 50% dan pemerintah 25 %, maka harus ada sumber pemasukan yang lain untuk menutupi kekurangan sebesar Rp 300-500 miliar. Usaha-usaha yang telah dimiliki UNAIR seperti Rumah Sakit dan PT. Dharma Putra Airlangga harus ditingkatkan. Selain itu, UNAIR butuh unit usaha baru, seperti hotel, dan pusat-pusat training.

“Banyak potensi yang belum digarap. UNAIR bisa membuka pusat-pusat training dengan berbagai keahlian yang ada di UNAIR. Selain itu, hasil penelitian bisa dihilirisasi dan peneliti mendapatkan royalti,” pungkasnya. (ind)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu