Jangan Jadi Gila Gadget

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
gadget
Foto: hlntv.com

Belakangan istilah Nomophobia atau no mobile phone phobia begitu popular di telinga kita. Munculnya istilah baru dari peneliti asal Inggris ini seolah menjadi permakluman akan keberadaan sekelompok orang yang amat bergantung pada gadget. Prof. Rhenald Kasali, Ph.D dalam bukunya yang berjudul Cracking Zone: Bagaimana Memetakan Perubahan di Abad 21 dan Keluar dari Perangkap Comfort Zone, menjuluki orang-orang ini dengan sebutan “Asri” yang merupakan kependekan dari “Asyik Sibuk Sendiri.”

Mereka dengan tekun menatap layar, sementara jari-jemari lincah mengetik pesan atau mengganti laman situs-situs di internet. Kaum “Asri” seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Mereka nampak cukup puas berteman dengan gadget semata.

Menanggapi tren tersebut, pakar Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Unair, Margaretha Rehulina, S.Psi., G.Dip.Psych.,M.Sc, mengungkapkan saat ini Nomophobia masih sebatas popular term dan belum masuk kedalam kategori gangguan mental. Nomophobia bukanlah penyakit berat, melainkan hanya dampak dari perubahan gaya hidup orang jaman sekarang.

Seperti namanya, Nomophobia merupakan kecenderungan seseorang yang amat tergantung pada penggunaan media komunikasi atau gadget. Ketika seseorang tidak bisa atau sulit menggunakan gadget, maka terciptalah rasa cemas berlebihan. Dalam hal ini, kecemasan tersebut disebabkan karena alasan yang tidak masuk akal dan berlebihan.

Misalkan, ketika susah mendapatkan sinyal atau karena kehabisan baterai, seringkali gadget tidak bisa digunakan secara maksimal. Kondisi semacam ini kemudian memunculkan rasa cemas berlebihan. Dengan alasan takut tidak bisa mengikuti informasi terkini, takut telat update status atau foto di media sosial, atau merasa kurang eksis, kurang gaul, dan lainnya.

Ketergantungan terhadap teknologi yang begitu masif seperti sekarang ini sama sekali belum pernah terjadi. Namun kini, berbagai jenis gadget dengan beragam fitur dilengkapi fasilitas internet dan sosial media bisa dinikmati siapapun tanpa terkendala biaya.

Walau demikian, Margaretha menilai bahwa Nomophobia belum masuk ke dalam kategori phobia yang tercantum secara resmi pada buku teks Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder     (DSM) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association. “ Saat ini Nomophobia belum menjadi phobia, karena belum mencapai skala epidemik,” ungkapnya.

Bagi pelaku bisnis, atau para profesional, tentu kebutuhan alat komunikasi teramat penting. Tak heran bila mereka kemudian memiliki lebih dari satu handphone untuk menunjang aktivitasnya. Tentu mereka ini tidak bisa dikatakan sebagai orang Nomophobia. Untuk memastikannya, kenali tandanya dengan baik.

Menurut Margaretha, karena nomophobia belum masuk ke dalam kajian ilmiah, maka sebagian besar ciri-cirinya masih bersifat spekulatif. Ciri yang paling menonjol adalah munculnya rasa tidak nyaman yang berlebihan ketika tidak atau kesulitan menggunakan gadget atau jauh dari media komunikasi. Rasa cemas yang berlebihan tersebut kemudian mengganggu aktivitasnya.

“Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa jadi bete banget kalau nggak bisa pakai gadgetnya. Karena kehabisan baterai atau kesulitan mendapatkan sinyal misalnya. Akhirnya jadi malas melakukan aktivitas lain, atau jadi malas ngobrol dengan orang di sekelilingnya,” jelasnya.

Jika dikaitkan dengan kepemilikan gadget lebih dari satu, apa itu termasuk ciri khas Nomophobia ? Menurutnya, belum tentu. Penilaian dilakukan sesuai konteks.

Menurutnya, ada beberapa alasan seseorang menggunakan gadget. Pertama, karena adanya kebutuhan untuk dapat mengakses informasi dengan cepat, kebutuhan untuk dapat melakukan interaksi dan bersosialisasi dengan lebih mudah, dan menjadikan gadget sebagai media untuk mengekspresikan diri.

Artinya, ada banyak hal atau pertimbangan mengapa seseorang punya gadget lebih dari satu. Mungkin tuntutan profesi. Yang membedakan di sini adalah intensitas ataupun kecenderungan untuk cemas berlebihan ketika tidak bisa menggunakan gadgetnya. Selama si empunya gadget bisa mengelola media komunikasinya dengan baik, maka tidak akan sampai mengalami hal tersebut.

“Melihat ini termasuk nomophobia atau bukan hanyalah sebatas usaha kita untuk memahami perilaku seseorang. Justru yang penting adalah berupaya untuk segera mengubah hal tersebut, agar tidak berlarut-larut menjadi kebiasaan yang tidak baik, “ jelasnya.

Cara Meredam Nomophobia

Tercipta sebagai makhluk sosial, tentu kita tidak bisa lepas dari aktivitas berkomunikasi dan bersosialisasi. Ada banyak alternatif media komunikasi yang bisa dikelola. Sehingga, tanpa berlebihan menggunakan gadget sekalipun sebenarnya kita masih tetap bisa eksis.

Kunci pertama meredam kecemasan itu adalah dengan mengubah pola pikir. Margaretha menjelaskan, orang-orang dengan kecemasan berlebihan semacam itu sebaiknya segera menyadari bahwa apa yang dirasakan itu hanya kecemasan berlebihan tanpa alasan yang masuk akal. Sadari bahwa ada banyak media komunikasi yang bisa digunakan.

Setelah berhasil mengubah pola pikir, selanjutnya mulailah membiasakan diri untuk mengelola berbagai alat media komunikasi. “Tanpa harus terpaku pada gadget, update informasi kan bisa dari mana-mana. Baca koran atau buku, email, dengarkan radio, bahkan ngobrol santai atau diskusi langsung dengan orang lain, dan perbanyak aktivitas positif lainnya. Cara ini harus lebih sering dilakukan,” jelasnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah berlatih menggunakan gadget seperlunya. Memahami kapan harus menggunakan gadget, dan kapan tidak menggunakannya. Ini penting, karena yang menjadi masalah adalah ketika seseorang terlalu asyik ber-gadget ria, ia menjadi kurang berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Tanpa kita sadari, ketika terlalu asyik menggunakan gadget masing-masing, ada banyak hal yang terlewatkan, bahkan terabaikan. Akibatnya, saat ini berkomunikasi tatap muka jadi lebih jarang dilakukan. Hal ini juga menyebabkan menurunnya rasa empati pada kondisi sekeliling.

Tak dipungkiri, kondisi semacam ini cukup mengkhawatirkan. Margaretha menilai, jika kebiasaan ini terus-menerus dilakukan maka dapat mengarah menjadi orang-orang yang tidak luwes dalam berkomunikasi, bahkan terkesan asosial.

“Seorang Nomophobia memang terkesan seperti antisosial, tapi sebenarnya tidak. Mereka tetap melakukan aktivitas bersosialisasi hanya saja lebih sering melalui gadget ketimbang tatap muka langsung,” katanya.

Kondisi semacam ini banyak dialami remaja jaman sekarang. Akibatnya, cara berkomunikasi mereka jadi terkesan kurang sopan baik secara tertulis maupun lisan. Menurutnya hal itu terjadi karena mereka terbiasa dan terbawa dengan gaya berkomunikasi ala sosial media yang terkesan to the point.

Cara berkomunikasi langsung berbeda dengan melalui sosmed. Menurutnya tatanan dalam berkomunikasi semestinya tetap dipertahankan. Jika dalam istilah Jawa disebut unggah-ungguh. Setiap komunikasi langsung membutuhkan adanya kontak mata, menyapa terlebih dulu, memperkenalkan diri, baru kemudian menyampaian maksud dari pembicaraan.

“Mereka yang terpaku dan tidak mampu menggunakan alternatif komunikasi lain, justru akan dianggap tidak sopan, dan tidak jelas dalam berkomunikasi, “jelasnya.(fy/ind)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu