MakNews, Media Online Berbasis Kearifan Lokal Surabaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto: MakNews

SURABAYA – Logo media online ini berwana dominan hijau dengan huruf “M”. Terdapat sentuhan kombinasi hitam dan putih sebagai pemanis. Sejumlah rubrik menjadi pilihan di halaman muka. Misalnya, Suroboyo, Cangkrukan, Reportase, #SuroboyoNyoblos, dan lain sebagainya.

Semua konten menyiarkan tentang Surabaya. Ada yang tentang isu politik/pemerintahan, aktifitas anak muda, maupun opini dan perspektif arek-arek Suroboyo. Ada juga soal isu nasional, bahkan internasional. Namun, disajikan dengan gaya Surabaya. Dibumbui celetukan, pisuhan, dan istilah yang mengandung “aroma” kesurabayaan.

Artikel pertama yang dipublikasian di situs ini berjudul Mengapa Surabaya Butuh MakNews? Tulisan yang berisi latar belakang kelahiran portal ini dipublikasikan pada 30 Juni 2015.

“Pembaca Surabaya harus menuntut engagement. Tidak sekadar jadi pembaca saja. Sebab, menurut Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) per 2012, kota tercinta kita ini adalah kota dengan jumlah pengguna internet terbanyak setelah Jakarta (3,5 juta user). Jumlahnya mencapai 955.000 user atau 31,6 persen dari total populasi (3.025.000 jiwa). Di Surabaya, ada begitu banyak hal yang jauh memiliki engagement dari sekadar berita-berita sensasional dan berita nasional. Soal taman-taman kota Surabaya yang masih fakir wifi, soal kisah anak-anak muda yang berjibaku sedang merintis bisnis pertamanya, soal warkop giras tradisional yang mulai tersingkir dengan adanya warkop giras 2.0. MakNews ingin mengangkat isu itu,” itulah sekelumit nukilan artikel tersebut.

Tak heran, isi dari media online ini “beridealisme” dari, oleh, dan untuk Surabaya. Ada semangat besar untuk mengangkat isu kesurabayaan atau kearifan lokal. Tim kreatif yang menggawanginya adalah sembilan orang yang cinta mati dengan Kota Pahlawan. Para kontributornya adalah mereka yang selalu bangga dengan Ibu kota Jawa Timur ini.

“Tak hanya tulisan. MakNews juga menyiapkan porsi untuk komik, karikatur, kartun atau animasi, dan karya-karya kreatif lainnya,” kata Rio F. Rachman, salah satu tim kreatif MakNews. “MakNews tidak eksklusif. Siapa saja bisa mengirim karya dan dipublikasikan di sini,” tambah alumnus FISIP Unair tersebut.

Selain lulusan S2 Media dan Komunikasi tersebut, delapan orang lain adalah Agung Putu Iskandar, Enrile Fahmi Fahreza, Bimantoro, dan Dadang Hariyawan. Di samping itu, ada Amanda Lokitasari, Iwan Iwe, Titik Andriyani, dan Shellya Febriana.

Selain mempublikasikan tulisan dan karya kreatif, media online yang bermarkas di Balas Klumprik ini juga kerap menjadi media partner event-event Surabaya. Misalnya, acara bertajuk Surabaya Dalam Kertas dan Dukung Animasi Indonesia di Tugu Pahlawan, Suroboyo Nyel! di bekas museum Mpu Tantular yang kini jadi Perpustakaan BI, Pemutaran Animasi 10 Nopemberan di Spazio lantai 7, dan lain sebagainya.

Bahkan, pada 27 September 2015 lalu, MakNews menginisiasi secara mandiri acara Bonek Wani Nulis. Kontennya, pelatihan menulis bagi supporter Persebaya Surabaya. Yang selanjutnya, menjadi inspirasi sekumpulan Bonek untuk membuat website bertajuk emosijiwaku.com.

Tiap hari, MakNews minimal melakukan update setidaknya dengan satu materi tulisan. Sering kali, lebih dari itu. Yang jelas, media ini ingin menjadi sarana dan wadah ekspresi alternatif bagi warga Surabaya. Termasuk, kaum muda kreatif yang tak pernah surut semangat untuk turut membangun kota ini.

MakNews memiliki akun twitter (@maknews_id) dan page facebook (MakNews) yang interaktif. Tim kreatif yang berjumlah sembilan orang secara bergiliran menjadi admin di media sosial tersebut. Sementara itu, traffic atau jumlah pengunjung harian di website ini tergolong baik untuk sebuah media online anyar.

Yang menarik, MakNews selalu melek dengan isu kekinian kota Surabaya. Bahkan, mewadahi luapan pendapat seluas-luasnya. Sebagai contoh, saat momentum perhelatan Pilwali Surabaya beberapa waktu lalu.

Media ini memberi rubrik khusus bertajuk #SuroboyoNyoblos. Di dalamnya, tak hanya ada analisis objektif tentang konstelasi politik. Namun, banyak pula guyonan dan humor terkait hajatan akbar lima tahunan tersebut. Tujuannya, bukan untuk menjatuhkan atau menertawakan pihak tertentu. Melainkan, mengajak warga untuk tidak kemrungsung menyikapi pesta demokrasi tersebut.

“Walau pahit, MakNews ingin mengangkatnya. Tapi tidak dengan gaya media-media besar yang sangat politis dan bias (mungkin karena mereka masang iklan di sana *eh).  MakNews ingin membicarakan politik dengan gaya Suroboyoangrapyak,mbanyol, dan gak kemrungsung. Tapi, kalau kurang mbanyol yo gak usah digojloki, Rek. Jenenge ae usaha. Gak eleng koen biyen durung duwe pacar. Usaha opo ae dilakeni eh dilakoni. MakNews tahu bahwa politik itu bikin pusing kepala Susan—bukan pusing kepala Barbie. Tapi kita selalu bisa tetap membicarakan politik tanpa harus menjadi tua. Kita tetap bisa berbicara politik sebagai arek Suroboyo. Kita bisa ngomong politik dengan penuh tawa. Minimal menertawakan orang-orang yang kehilangan akalnya karena otaknya isinya cuma politik,”

Demikianlah salah satu nukilan dalam editorial berjudul Politik Mbanyol Pilwali yang dirilis sebagai pembuka rubrik #SuroboyoNyoblos.

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu