organisasi
Photo: etl.de
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Dalam salah satu sesi penjurian Stand Up Comedy yang diadakan di TV swasta, Raditya Dika menyarankan pada salah satu peserta, “Tetaplah berkomunitas, di sana ada sangat banyak pelajaran,”

Ya, berkomunitas, berorganisasi, dan berkumpul dengan kawan-kawan yang punya kesamaan visi atau misi, pasti membuka wawasan baru. Terlebih, bila jumlah kawan di komunitas/organisasi/perkumpulan itu banyak. Tentu, bakal ada banyak pula peluang menambah pengetahuan.

Berikut sejumlah manfaat dari kegemaran positif tersebut.

1. Menjadi ajang silaturahmi. Dengan terus menjaga tali silaturahmi, kebersamaan makin terjaga. Rasa persaudaraan terasah. Imbasnya, peluang frustrasi bakal menurun. Kebahagiaan lebih mudah didapat karena kita yakin: kita tidak hidup sendiri.

Di sisi lain, kita dapat mulai memikirkan tentang apa saja yang dapat dilakukan secara bersama-sama. Khususnya, menjalankan pekerjaan yang memiliki nilai tambah di kemudian hari. Tidak menutup kemungkinan, terdapat proyek atau ide produktif yang bisa dilakukan bareng dan bakal memberi keuntungan.

2. Gudang ilmu. Berkumpul dengan kawan-kawan pasti menciptakan interaksi sosial. Interaksi tersebut tak jarang membahas sesuatu yang bermanfaat. Memang, kadang ada juga yang kumpul-kumpul sekadar untuk ketawa-ketiwi. Hal yang seperti itu hendaknya kita hindari.

Sayang, kalau berkumpul sekadar buat bersenda gurau. Jatuhnya, jadi seperti sekelompok anak kecil. Maka itu, ajang pertemuan di komunitas/organisasi/perkumpulan mesti membawa nilai positif. Upayakan terjadi transfer ilmu di dalamnya. Kalau bukan kita yang berbagi pengetahuan, biarkan kawan-kawan kita yang menebarkan wawasan.

3. Belajar menerima perbedaan. Di dalam sebuah perkumpulan, perbedaan merupakan keniscayaan. Di sana adalah miniatur dunia secara umum. Ingat, kawan-kawan, dunia terbentuk oleh banyak perbedaan. Nah, yang jadi masalah adalah bagaimana kita menyikapinya.

Bila di satu lingkup kecil kita sudah dapat menerima pihak-pihak yang berpendapat tak sama, di lingkup yang lebih besar kita pasti lebih sanggup bersikap bijak. Orang yang kaku dan tidak mau menerima perbedaan akan cenderung memaksakan pendapat. Kalau jadi pemimpin, dia akan otoriter atau diktator. Dan itu sudah bukan zamannya lagi.

4. Mengasah jiwa kepemimpinan. Umumnya, sebuah komunitas/organisasi/perkumpulan memiliki pemimpin. Baik yang sifatnya pucuk tertinggi, maupun pemimpin seksi-seksi tertentu. Kadang kala, ada pula kegiatan yang butuh kepanitiaan dan koordinasi. Di sini jiwa kepemimpinan terasah. Apalagi, bila roda kepemimpinan memang tersistem untuk dijalankan bergilir. Jadi, semua anggota, mau tidak mau, akan mencicipi kursi kepemimpinan itu.

Komunitas/organisasi/perkumpulan mengajarkan kita untuk cermat dalam mengelola potensi (SDM maupun non-SDM). Lihatlah para pemimpin Indonesia dan dunia selama ini. Mereka pasti berangkat dari komunitas/organisasi/perkumpulan yang telah sukses mengantarkan mereka menjadi pribadi yang hebat.

5. Jaringan Informasi. Di era modern seperti sekarang ini, informasi menjadi sangat penting. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan, informasi sudah menjelma komoditas yang diperebutkan. Tanpa informasi yang memadai, seseorang akan sulit menggapai cita-cita, mencari pekerjaan, dan mendapatkan apapun yang diinginkan.

Dengan berkumpul bersama banyak orang, sumber informasi tak akan terputus. Keberadaan orang-orang di sekeliling juga turut memperkuat jaringan.

Jaringan yang luas bakal memudahkan kita dalam menempuh kehidupan di masa datang. Misalnya, informasi tentang lowongan pekerjaan yang kita sukai, kadang datang dari mereka yang “bisik-bisik” di jaringan kita sendiri. Maka itu, jangan pernah remehkan jaringan informasi.

6. Jalan pelancar jodoh. Mungkin sebagian orang menganggap ini klise. Namun, cobalah lihat sekeliling. Pasti, ada banyak kawan, saudara, dosen, dan kerabat yang memiliki pasangan dari komunitas/organisasi/perkumpulan yang sama.

Kesamaan visi atau misi menjadi salah satu sebab kenapa mereka berjodoh. Namun, bisa jadi pula, semua berkutat pada falsafah lawas: tresna jalaran saka kulina. Entahlah…

Yang jelas, bagi mereka yang masih jomblo, berkumpul dengan kawan-kawan yang punya kesamaan pandangan bukanlah ide buruk. Dan bisa jadi, di tempat itu jodoh dapat diraih. Tapi ingat, bagaimanapun juga, meski memiliki persamaan, antar manusia juga memiliki banyak perbedaan. Seperti yang dijelaskan pada poin nomor 3, kita mesti lihai menyikapi perbedaan yang ada.

Akhirul kalam, selamat berkomunitas!

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone